<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>USEPSUPRIATNA's Blog</title>
	<atom:link href="http://muhammadirfani.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muhammadirfani.wordpress.com</link>
	<description>Belajar ! Maka Hidupmu Punya Makna.</description>
	<lastBuildDate>Thu, 19 Jan 2012 14:33:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='muhammadirfani.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/1e23065964d96592a73ca47f588378e9?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>USEPSUPRIATNA's Blog</title>
		<link>http://muhammadirfani.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://muhammadirfani.wordpress.com/osd.xml" title="USEPSUPRIATNA&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://muhammadirfani.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>MENYONGSONG GERHANA BULAN DENGAN TAFAKUR DAN IBADAH SESUAI SUNNAH</title>
		<link>http://muhammadirfani.wordpress.com/2011/12/09/menyongsong-gerhana-bulan-dengan-tafakur-dan-ibadah-sesuai-sunnah/</link>
		<comments>http://muhammadirfani.wordpress.com/2011/12/09/menyongsong-gerhana-bulan-dengan-tafakur-dan-ibadah-sesuai-sunnah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Dec 2011 22:11:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Usep Supriatna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keislaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhammadirfani.wordpress.com/?p=502</guid>
		<description><![CDATA[Sabtu malam, 10 Desember 2011 kita akan menyaksikan kembali gerhana bulan. Inilah gerhana total, seperti yang terjadi pada 16 Juni lalu,  namun ada perbedaan diantara keduanya.  Gerhana yang terjadi pada Juni yang lalu menampakkan bulan berwarna merah darah, sementara gerhana kali ini menciptakan bulan jauh lebih gelap. Warna merah kehitaman ini terjadi karena bulan berada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhammadirfani.wordpress.com&amp;blog=5762265&amp;post=502&amp;subd=muhammadirfani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://muhammadirfani.files.wordpress.com/2011/12/bulan-ketika-gerhana1.jpg"><img class="alignleft  wp-image-506" title="bulan ketika gerhana" src="http://muhammadirfani.files.wordpress.com/2011/12/bulan-ketika-gerhana1.jpg?w=120&#038;h=127" alt="" width="120" height="127" /></a>Sabtu malam, 10 Desember 2011 kita akan menyaksikan kembali gerhana bulan. Inilah gerhana total, seperti yang terjadi pada 16 Juni lalu,  namun ada perbedaan diantara keduanya.  Gerhana yang terjadi pada Juni yang lalu menampakkan bulan berwarna merah darah, sementara gerhana kali ini menciptakan bulan jauh lebih gelap. Warna merah kehitaman ini terjadi karena bulan berada di bagian terdalam bayangan bumi. Seluruh wilayah Indonesia dapat menyaksikan fenomena alam ini.</p>
<p><span id="more-502"></span>Prosesi gerhana dimulai saat bulan memasuki bayangan kabur bumi pada pukul 18.33 WIB. Saat itu bulan baru terbit di ufuk timur ketika cahaya matahari masih berpendar di langit. Pemandangan ini akan menjadi pengalaman mengesankan karena purnama yang terlihat besar di dekat horizon akan dilapisi layar langit kebiruan.</p>
<p>Pada pukul 19.45 WIB,  bulan mulai memasuki bayangan gelap bumi. Selama 80 menit selanjutnya permukaan bulan perlahan ditelan bayangan gelap bumi. Totalitas terjadi mulai pukul 21.06 WIB, ketika seluruh permukaan bulan masuk ke bayangan gelap bumi.</p>
<p>Fase total akan terjadi selama 51 menit dengan puncak gerhana pada pukul 21.32 WIB. Saat totalitas, bulan berada pada ketinggian 60 derajat dari horizon timur.</p>
<p>Setelah bersembunyi di balik bayangan gelap, bulan perlahan menampakkan wujudnya mulai pukul 21.57 WIB. Seluruh permukaan bulan keluar dari bayangan gelap pada pukul 23.18 WIB. Prosesi gerhana berakhir pada Minggu, 11 Desember, pukul 00.30 WIB.</p>
<p>Gerhana bulan total kali ini dipastikan lebih banyak menyedot perhatian masyarakat ketimbang gerhana bulan pada Juni lalu. Alasannya, gerhana kali ini terjadi saat <em>prime time</em> (waktu utama), yaitu dari magrib hingga menjelang tengah malam. Kemungkinan sebagian besar  masyarakat ingin menyaksikan fenomena langka tersebut, baik secara langsung maupun melalui media televisi atau internet. Bahkan Observatorium Bosscha dan Kementerian Komunikasi dan Informatika telah menyiapkan fasilitas <em>live streaming</em> melalui halaman situs http://kominfo.go.id. Tayangan langsung gerhana ini disiarkan dari enam titik pengamatan di seluruh Indonesia, yaitu Lembang, Yogyakarta, Jakarta, Bandung, Pekanbaru, dan Mataram.<br />
<strong>Media Tafakur</strong></p>
<p>Bulan adalah benda langit yang dekat dengan bumi. Permukaannya bertabur batu dan terdiri dari hamparan titik-titik kawah yang terbentuk dari hunjaman meteor dan tak terhitung jumlahnya. Garis tengah bulan 2.476 km, volumenya 1/49 isi bumi, periode rotasi 27 lebih 1/3 hari, dan jaraknya ke matahari 284.000 km. Allah berfirman :</p>
<p><em>“dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah Dia sampai ke manzilah yang terakhir) Kembalilah Dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendahului bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya</em>. (QS. Yasin : 39 – 40).</p>
<p>Peredaran bulan mengelilingi bumi dan keduanya bersama-sama mengelilingi matahari mengindikasikan keteraturan ciptaan-ciptaan Allah yang tunduk pada sunnah-Nya. Pergerakan benda-benda langit itu juga yang mengakibatkan adanya fenomena-fenomena alam. Gerhana bulan merupakan salah satu fenomena tersebut, ketika matahari bumi dan bulan secara berturut-turut berada pada satu garis lurus. Cahaya bulan yang merupakan pantulan sinar matahari, tidak nampak karena terhalang oleh bumi. Peristiwa tersebut terjadi hanya sesekali dalam kurun waktu tertentu, seperti yang terjadi pada tanggal 10 Desember 2011 ini.</p>
<p>Pergantian malam dan siang, juga merupakan indikasi dari adanya peredaran bulan, bumi dan matahari yang harus menjadi objek perhatian manusia. Allah berfirman :</p>
<p><em>“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” (QS. Ali Imran : 190).</em></p>
<p>Gerhana bulan yang terjadi kali ini tepat berada di penghujung tahun 2011 masehi dan permulaan tahun 1433 hijriyah. Hal ini merupakan momentum bagi kita untuk mentafakuri kebesaran Allah dan kesempatan pula untuk menata kehidupan kita. Allah tidak pernah sia-sia untuk menciptakan ini semua, karena semuanya akan mendatangkan hikmah bagi mereka yang memanfaatkan potensi akalnya, sebagai anugerah terbesar dari-Nya.</p>
<p><em>“Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau </em><em>orang yang ingin bersyukur”</em> (QS. Al-Furqan : 62).</p>
<p>Berdasarkan ayat tersebut, pergantian malam dan siang harus kita gunakan untuk mengambil pelajaran (<em>dzikir</em>) dan memanfaatnya untuk berbuat kebaikan (<em>syukur</em>). Harus ada kesadaran untuk membaca ulang peristiwa-peristiwa atau kejadian-kejadian yang telah kita lalui dimasa lalu, agar dapat menganalisa prestasi-prestasi ataupun kesia-siaan apa yang pernah kita alami dan kita torehkan selama tahun yang telah kita jalani.</p>
<p>Pergantian malam dan siang berkaitan erat dengan waktu yang telah diberikan Allah. Waktu memiliki makna yang amat penting namun sering sekali kita lupakan. Dalam pandangan Islam, waktu bersifat linier (lurus), artinya ia selalu bergerak ke depan dan tidak pernah berbalik ataupun berputar ke masa yang silam. Waktu adalah makhluk Allah yang selalu tercipta baru. Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda, “<em>Tidak terbit fajar suatu hari, kecuali dia berseru, &#8220;Wahai putra-putri Adam, aku waktu, aku ciptaan baru, yang menjadi saksi usahamu. Gunakan aku karena aku tidak akan kembali lagi sampai hari kiamat.</em>&#8220;</p>
<p>Seorang ulama/penyair berkata, ”<em>Waktu adalah sungai yang mengalir ke seluruh penjuru sejak dahulu kala, melintasi pulau, kota, dan desa, membangkitkan semangat atau meninabobokan manusia. Ia diam seribu bahasa, sampai-sampai manusia sering tidak menyadari kehadiran waktu dan melupakan nilainya, walaupun segala sesuatu, selain Tuhan, tidak akan mampu melepaskan diri darinya.”</em></p>
<p>Untuk itulah,maka kejadian gerhana ini juga harus dijadikan momentum untuk mengingatkan kita pada masa (waktu) yang sedang kita jalani, sehingga tidak pernah berlalu-sia-sia.</p>
<p><strong>Anjuran Nabi</strong></p>
<p>Nabi Muhammad SAW, sudah jauh-jauh hari mengaitkan terjadinya gerhana, baik matahari maupun bulan, dengan tanda kebesaran Allah, sebagaimana sabdanya dalam hadits berikut :</p>
<p><em>”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat gerhana tersebut, maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari)</em></p>
<p>Ada anjuran yang sangat kuat (<em>sunnah muakkadah</em>) yang disampaikan beliau ketika terjadinya gerhana, yaitu dengan melaksanakan shalat sunnah gerhana, memperbanyak dzikir (tafakkur), berdo’a, bertakbir dan sedekah. Dalam hadits yang lain, beliau bersabda :</p>
<p>”<em>Jika kalian melihat kedua gerhana yaitu gerhana matahari dan bulan, bersegeralah menunaikan shalat</em>.” (HR. Bukhari)</p>
<p>Untuk itulah, disamping kita menyaksikan momen-momen gerhana yang terjadi hampir 6 jam ini, itupun kalau langit cukup cerah untuk menyaksikannya dengan mata telanjang, maka sempatkanlah beberapa saat untuk melakukan apa yang disunnahkan oleh Nabi SAW, agar peristiwa ini mendatangkan <em>hikmah</em> bagi kita dan menjadi momentum untuk meningkatkan ketakwaan kepada-Nya. <em>Wallahu ‘alam.</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhammadirfani.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhammadirfani.wordpress.com/502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhammadirfani.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhammadirfani.wordpress.com/502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhammadirfani.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhammadirfani.wordpress.com/502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhammadirfani.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhammadirfani.wordpress.com/502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhammadirfani.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhammadirfani.wordpress.com/502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhammadirfani.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhammadirfani.wordpress.com/502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhammadirfani.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhammadirfani.wordpress.com/502/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhammadirfani.wordpress.com&amp;blog=5762265&amp;post=502&amp;subd=muhammadirfani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhammadirfani.wordpress.com/2011/12/09/menyongsong-gerhana-bulan-dengan-tafakur-dan-ibadah-sesuai-sunnah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c91a4fac0914a02f3695287d1cc0ef25?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">abu irfani</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://muhammadirfani.files.wordpress.com/2011/12/bulan-ketika-gerhana1.jpg?w=142" medium="image">
			<media:title type="html">bulan ketika gerhana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HIJRAH, INSPIRASI UNTUK PERUBAHAN</title>
		<link>http://muhammadirfani.wordpress.com/2011/11/27/hijrah-inspirasi-untuk-perubahan/</link>
		<comments>http://muhammadirfani.wordpress.com/2011/11/27/hijrah-inspirasi-untuk-perubahan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Nov 2011 03:20:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Usep Supriatna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keislaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhammadirfani.wordpress.com/?p=499</guid>
		<description><![CDATA[Tahun baru Hijriyah telah menyapa. Bulan di langit memberi tanda, bahwa tanggal 1 Muharram 1433 H telah tiba. Kaum Muslimin kini dihentakkan kembali oleh getaran sejarah lebih dari 14 abad silam, ketika sang panutan ummat, Rasululah SAW,  berhijrah meninggalkan kota kelahirannya, Makkah Al-Mukarramah menuju Madinah (Yatsrib). Tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun pertama hijriyah atau bertepatan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhammadirfani.wordpress.com&amp;blog=5762265&amp;post=499&amp;subd=muhammadirfani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://muhammadirfani.files.wordpress.com/2011/11/tahun-baru-hijrah.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-500" title="tahun baru hijrah" src="http://muhammadirfani.files.wordpress.com/2011/11/tahun-baru-hijrah.jpg?w=150&#038;h=99" alt="" width="150" height="99" /></a>Tahun baru Hijriyah telah menyapa. Bulan di langit memberi tanda, bahwa tanggal 1 Muharram 1433 H telah tiba. Kaum Muslimin kini dihentakkan kembali oleh getaran sejarah lebih dari 14 abad silam, ketika sang panutan ummat, Rasululah SAW,  berhijrah meninggalkan kota kelahirannya, Makkah Al-Mukarramah menuju Madinah (Yatsrib).</p>
<p><span id="more-499"></span>Tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun pertama hijriyah atau bertepatan dengan 24 September 622 M, hijrah ke kota Yatsib itu dimulai. Peristiwa itu menggambarkan dengan jelas titik perjuangan dan pengorbanan Rasulullah beserta sahabat-sahabatnya untuk mempertahankan risalahnya. Penderitaan dan pengorbanan yang harus dilewati ketika berjalan di bawah terik matahari yang sangat menyengat, membakar padang sahara yang gersang. Berjalan kaki melewati malam yang sangat gelap, turun naik gunung dengan batu-batu yang sangat terjal dan dengan perbekalan yang seadanya. Semua itu dilakukan demi tegaknya risalah dan menyusun langkah strategis untuk membangun basis kekuatan baru. Tidak hanya kekuatan fisik, melainkan juga kekuatan psikologis (<em>ruhiyyah</em>). Ketika di Mekah, mereka hidup nyaman secara materi (fisik), tetapi tertekan secara psikologis.</p>
<p>Madinah memang berbeda dengan Mekah. Jika Mekah dikuasai oleh elit politik Quraisy yang solid dan sulit dilawan, maka Madinah justru dalam kondisi disintegrasi. Dua suku setempat yang ada ‘Aus dan Khazraj sudah sejak lama bermusuhan, ditambah lagi suku Yahudi yang pada mulanya hidup berdampingan dengan suku setempat, dan kini masyarakat Madinah juga harus menerima para pendatang baru, yakni kaum <em>muhajirin</em> Mekah. Meskipun tak mudah disatukan, namun dibawah kepemimpinan Rasulullah SAW, kaum-kaum itu bersatu dan membangun komunitas baru, masyarakat Madinah Al-Munawwarah.</p>
<p>Karena itulah, hijrah merupakan tonggak baru membangun peradaban islam dan babak baru dalam mengukuhkan dirinya sebagai sebuah kekuatan di tengah peradaban dunia lainnya. Sehingga Umar bin Khathab mengabadikan peristiwa itu dengan menjadikannya sebagai awal perhitungan kalender Islam yang kemudian dikenal dengan tahun hijriyah.</p>
<p>Hijrah dalam pengertian khusus, seperti yang dilakukan oleh Nabi beserta sahabat-sahabatanya, dari Mekah ke Madinah itu telah usai dan merupakan kisah masa lampau. Tetapi, menurut Afif Muhhamad (2005 : 214) ), didalam pengertian umum hijrah tetap dianjurkan, bukan saja dalam makna spiritualnya –misalnya dengan meninggalkan larangan Allah untuk menuju ridla-Nya- tetapi juga secara fisik, yakni hijrah dari satu tempat ke tempat yang baru. Hijrah juga menunjukkan sikap Islam yang terbuka dan berwawasan luas. Ia mendorong umatnya untuk mengembara di muka bumi, baik untuk menemukan bukti-bukti kekuasaan Allah maupun untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Bumi Allah ini luas dan seorang muslim tidak perlu takut terlantar karena hijrah. Nabi telah mencontohkan, ketika meninggal tanah kelahirannya (mekah), beliau malah menemukan tempat lain (Madinah) yang justru membuatnya dapat menegakkan risalah Islam dengan sebaik-baiknya.</p>
<p>Sejak peristiwa hijrah itu, Rasullah tidak pernah kembali ke kota kelahirannya, kecuali pada saat <em>Futuh Mekkah</em>, yakni ketika pembebasan kota Mekah dari cengkeraman <em>kafirin</em> Quraisy dan ketika beliau beribadah Haji untuk terakhir kalinya. Beliau wafat di Madinah dan dimakamkan di sana. Hal ini menunjukkan bahwa seorang muslim hendaknya tidak terlalu terikat dengan tanah kelahirannya. Lebih lanjut Afif Muhammad mengutip pendapat Ibn Abd al Barr yang menyatakan bahwa seorang laki-laki hendaknya tidak mati dan dikuburkan di tanah kelahirannya. Seorang Muslim harus berani merantau, baik untuk mencari penghidupan yang baru maupun menuntut ilmu. Bahkan Rasulullah pun menegaskan mengenai sikap seorang Muslim untuk selalu terbuka terhadap peradaban lain, sehingga mendorong umatnya untuk mengejar ilmu hingga ke Negeri Cina.</p>
<p>Bagi orang yang memilih hidup untuk merantau (hijrah), akan memiliki wawasan yang luas, karena mengenal berbagai tradisi dan adat istiadat yang berkembang di daerah (negeri) lain dan terutama untuk menimba ilmu pengetahuan mereka. Hijrah juga dapat mengembangkan potensi seseorang yang sebelumnya terpendam. Sebab, dengan meninggalkan tanah kelahirannya, seseorang akan menghadapi banyak kesulitan dan tantangan. Kesulitan dan tantangan akan memunculkan pemikiran-pemikiran, sikap kreatif dan bakat-bakat yang terpendam, disamping mendidik jiwa kemandirian.</p>
<p>Dalam skala yang lebih luas, peradaban-peradaban besar justru lahir dan dimulai dari proses “hijrah” (migrasi). Suku-suku Aria yang semi-primitif, setelah migrasi ke selatan dan barat, melahirkan peradaban Barat dan Timur yang lebih besar. Orang-orang Sumeria migrasi ke wilayah antara Sungai Tigris dan Eufrat, Mesir dan Afrika Utara, membentuk peradaban-peradaban besar di Sumeria, Babilonia dan Acadea. Munculnya <em>Renaissance</em> dan Peradaban Barat Modern lahir karena adanya migrasi orang-orang Erofa ke Amerika, Asia dan Afrika.  Konon, para narapidana dari Eropa yang migrasi ke Australia, melahirkan bangsa-bangsa di benua Kanguru yang maju. Perantau-perantau Tionghoa, yang juga adalah orang-orang sengsara di tanah kelahiranya, China, kini menjadi pengusaha-pengusaha sukses, pemilik perusahan-perusahaan dan bank-bank yang besar di Asia, khususnya Indonesia. Itulah salah satu bukti, bahwa semangat “hijrah”, meninggalkan tanah kelahiran menuju negeri perantauan, telah melahirkan kesuksesan-kesuksesan.</p>
<p>Memaknai hijrah secara substantif merupakan langkah baru untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Memperingati  Tahun Baru hijriyah ini sepatutnya menjadi  momentum untuk memasuki era baru untuk melakukan perbaikan dan perubahan dalam segala aspek kehidupan, baik individual maupun sosial,  sehingga terwujud  kemaslahatan umat yang lebih luas. <em>Wallahu&#8217;alam</em>.</p>
<p>SELAMAT TAHUN BARU HIJRIYAH 1433, SEMOGA MENJADI TONGGAK BARU UNTUK MELAKUKAN PERUBAHAN YANG LEBIH BAIK</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhammadirfani.wordpress.com/499/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhammadirfani.wordpress.com/499/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhammadirfani.wordpress.com/499/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhammadirfani.wordpress.com/499/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhammadirfani.wordpress.com/499/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhammadirfani.wordpress.com/499/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhammadirfani.wordpress.com/499/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhammadirfani.wordpress.com/499/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhammadirfani.wordpress.com/499/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhammadirfani.wordpress.com/499/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhammadirfani.wordpress.com/499/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhammadirfani.wordpress.com/499/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhammadirfani.wordpress.com/499/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhammadirfani.wordpress.com/499/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhammadirfani.wordpress.com&amp;blog=5762265&amp;post=499&amp;subd=muhammadirfani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhammadirfani.wordpress.com/2011/11/27/hijrah-inspirasi-untuk-perubahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c91a4fac0914a02f3695287d1cc0ef25?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">abu irfani</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://muhammadirfani.files.wordpress.com/2011/11/tahun-baru-hijrah.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">tahun baru hijrah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>REFLEKSI DI HARI GURU KE-66</title>
		<link>http://muhammadirfani.wordpress.com/2011/11/25/refleksi-di-hari-guru-ke-66/</link>
		<comments>http://muhammadirfani.wordpress.com/2011/11/25/refleksi-di-hari-guru-ke-66/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 19:09:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Usep Supriatna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhammadirfani.wordpress.com/?p=490</guid>
		<description><![CDATA[Tayangan kick Andy pada hari  Jumat 25 Nopember 2011  merupakan  persembahan istimewa di Hari Guru tahun 2011. Tayangan yang bertajuk “Guru Inspirasiku” itu benar-benar memberi inspirasi yang luar biasa, khususnya bagi para guru. Setidaknya memompa motivasi untuk lebih meningkatkan kesadarannya sebagai seorang guru. Hari Guru yang diperingati setiap tahun pada tanggal 25 Nopember, bukan saja [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhammadirfani.wordpress.com&amp;blog=5762265&amp;post=490&amp;subd=muhammadirfani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://muhammadirfani.files.wordpress.com/2011/11/guru-copy.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-491" title="guru copy" src="http://muhammadirfani.files.wordpress.com/2011/11/guru-copy.jpg?w=150&#038;h=94" alt="" width="150" height="94" /></a>Tayangan kick Andy pada hari  Jumat 25 Nopember 2011  merupakan  persembahan istimewa di Hari Guru tahun 2011. Tayangan yang bertajuk “Guru Inspirasiku” itu benar-benar memberi inspirasi yang luar biasa, khususnya bagi para guru. Setidaknya memompa motivasi untuk lebih meningkatkan kesadarannya sebagai seorang guru.</p>
<p><span id="more-490"></span>Hari Guru yang diperingati setiap tahun pada tanggal 25 Nopember, bukan saja hanya sekedar diwarnai dengan acara seremonial, seperti  upacara  ataupun juga perlombaan-perlombaan yang melibatkan para guru. Tetapi lebih dari itu, memperingati Hari Guru adalah momen untuk refleksi  dan reintrospeksi atas peran menjadi guru.</p>
<p>Pilihan untuk menjadi guru tentu saja bukan tanpa alasan. Guru adalah profesi yang telah ada semenjak peradaban manusia itu ada. Bahkan guru menjadi salah satu penjamin keberlangsungan peradaban. Jika pilihan untuk menjadi guru itu tetap dijalani hingga kini, tentu saja karena atas dasar idealisme dan  kecintaan.</p>
<p>Meski akhirnya harus diakui, bahwa masih ada dilemma antara idealisme/kecintaan dengan kesejahteraan. Ironi yang  cukup  lama bertahan mengenai sosok kehidupan seorang guru, dimana mereka harus menjalani hidup pas-pasan dan terkadang harus terseok-seok untuk bisa bertahan hidup, diri dan keluarganya. Namun, ironi tersebut kini perlahan-lahan mulai pupus ketika  pemerintah memberi perhatian melalui alokasi anggaran negara untuk sektor pendidikan, sebagai upaya memenuhi amanat Undang-Undang Dasar 1945, yaitu dengan mengalokasikan anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari total jumlah Anggaran Pendapatan dan Belanja  Negara (APBN).</p>
<p>Sekarang ini, problematika guru pada tataran perjuangan meningkatkan kesejahteraan, mulai teratasi. Menjadi guru bukan lagi pilihan yang dilematis melainkan sebuah pilihan yang prestisius. Antara idealisme, kecintaan dan kesejahteraan kini bisa berjalan berdampingan. Guru kini dapat berjalan dengan tubuh tegak  dan penuh kebanggaan. Bahkan melalui program sertifikasi, profesi profesi guru kemudian jadi pilihan dan incaran. Perguruan tinggi yang menyediakan fakultas keguruan dan ilmu pendidikan (FKIP), kini mulai diserbu ribuan pendaftar. Bahkan sarjana-sarjana dari jalur non kependidikan , kini mendaftar pada perguruan tinggi yang menyelenggarakan Pendidikan Profesi Guru (PPG). Tujuannya utamanya : Menjadi Guru. Apakah karena pertimbangan idealisme, ataupun semata-mata peningkatan kesejahteraan yang menjanjikan ? Entahlah.</p>
<p>Semenjak penetapan guru sebagai profesi  pada peringatan Hari Guru Nasional tahun 2004 oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, pemerintah dan masyarakat memosisikan profesi guru sangat terhormat, baik secara formal maupun sosial,  Penetapan ini diharapkan menjadi tonggak awal bangkitnya apresiasi pemerintah dan masyarakat terhadap profesi guru, yang ditandai dengan dilakukannya reformasi profesi guru, meliputi peningkatan kualifikasi dan kompetensi, program sertifikasi, pemberian penghargaan, perbaikan kesejahteraan dan perlindungan hukum.</p>
<p>Adanya peningkatan kesejahteraan bagi guru, tidak luput memunculkan kekhawatiran bergesernya orientasi ketika memilih profesi guru. Berlomba-lombanya orang untuk meraih profesi guru, semata-mata hanya karena janji pemerintah untuk memberikan penghargaan materi yang tinggi, dikhawatirkan melahirkan tenaga pendidik yang mengajar tanpa filosofi, idealisme dan kecintaan yang transenden (suci).</p>
<p>Oleh karena itu, merefleksikan 66 Tahun Hari Guru Indonesia, tidak lagi sekedar berbicara soal kesejahteraan guru, karena harapan untuk hidup layak dan terhormat, sudah didukung oleh perangkat kebijakan pemerintah. Pertanyaan yang penting dan mendasar sebagai bahan refleksi kita adalah “ Bagaimana menjadi  guru sejati”. Guru yang benar-benar menjadi ’guru’, bukan lagi sekedar <em>digugu dan ditiru</em> (ditaati dan dicontoh), apalagi bukan sekedar “<em>digugulung di juru</em>” (dikerumuni para siswanya).</p>
<p>Meski masih tetap berhadapan dengan berbagai kebijakan dan isu politik pendidikan yang masih beroriantasi pada kepentingan kekuasaan. Meski harus berhadapan dengan kenyataan bahwa guru “dipaksa” untuk menjadi robot kurikulum dan berbagai proyek berbiaya mahal yang mengatasnamakan gagasan peningkatan kualitas pendidikan nasional. Meski harus berhadapan dengan kenyataan bahwa pemerintah masih tetap ingin menyelenggarakan ajang Ujian Nasional (UN) yang konon dianggap pemerintah sebagai  alat mengukur kepintaran anak didik. Guru harus tetap tidak kehilangan identitas dan kesejatiannya.</p>
<p>Guru sejati adalah sumber inspirasi bagi para anak didiknya.  Guru sejati adalah ruang yang memberi keleluasan bagi anak didiknya untuk berinteraksi dengan kehidupannya. Guru sejati harus selalu menyediakan waktu untuk bermetamorfosis dari sekadar pengajar menjadi pendidik, pengukir sejarah, yang mengajarkan hikmah kepada para muridnya untuk menjadi manusia-manusia utuh dan memberikan keteladanan dalam kehidupannya. Guru sejati senantiasa mengasah diri lahir batin untuk dapat menjadi pribadi yang mampu mengenali setiap potensi para murid dan berkemampuan membangkitkan potensi tersebut. Guru sejati memiliki cara pandang yang luas buat mengelola dunia anak-anak agar menjadi anak-anak peradaban yang memiliki akar pada nilai-nilai agama dan budaya yang teguh, sekaligus mampu menjangkau peradaban global.</p>
<p>Guru sejati harus mengajarkan kehidupan pada anak didiknya melalui kasih sayang dan persahabatan, seperti bait terakhir puisi yang ditulis oleh Dorothy Law Nolte berikut ini :</p>
<p align="center"><strong><em>If a child lives with acceptance and friendship, he learns to find love in the world</em></strong></p>
<p>(Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan).</p>
<p>SELAMAT HARI GURU !!!</p>
<p>.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhammadirfani.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhammadirfani.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhammadirfani.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhammadirfani.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhammadirfani.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhammadirfani.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhammadirfani.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhammadirfani.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhammadirfani.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhammadirfani.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhammadirfani.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhammadirfani.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhammadirfani.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhammadirfani.wordpress.com/490/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhammadirfani.wordpress.com&amp;blog=5762265&amp;post=490&amp;subd=muhammadirfani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhammadirfani.wordpress.com/2011/11/25/refleksi-di-hari-guru-ke-66/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c91a4fac0914a02f3695287d1cc0ef25?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">abu irfani</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://muhammadirfani.files.wordpress.com/2011/11/guru-copy.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">guru copy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>NILAI-NILAI LUHUR IBADAH HAJI</title>
		<link>http://muhammadirfani.wordpress.com/2011/11/13/nilai-nilai-luhur-ibadah-haji/</link>
		<comments>http://muhammadirfani.wordpress.com/2011/11/13/nilai-nilai-luhur-ibadah-haji/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Nov 2011 00:52:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Usep Supriatna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keislaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhammadirfani.wordpress.com/?p=485</guid>
		<description><![CDATA[Sebahagian kafilah haji sudah bersiap-siap meninggalkan Tanah Suci menuju tanah airnya masing-masing, setelah  menunaikan rukun Islam kelima. Perasaan riang dan gembira nampak dari wajah para hujjaj, setelah mereka berjuang untuk menunaikan seluruh manasik haji. Perjuangan dalam menunaikan ibadah haji merupakan perjuangan yang sangat berat. Perjuangan hidup dan mati. Perjuangan menemukan filsafat hidup yang sebenarnya. Mudah-mudahan jemaah haji [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhammadirfani.wordpress.com&amp;blog=5762265&amp;post=485&amp;subd=muhammadirfani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://muhammadirfani.files.wordpress.com/2011/11/masjidil-haram-mekah-saudi-arabia.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-486" title="masjidil-haram-mekah-saudi-arabia" src="http://muhammadirfani.files.wordpress.com/2011/11/masjidil-haram-mekah-saudi-arabia.jpg?w=150&#038;h=112" alt="" width="150" height="112" /></a>Sebahagian kafilah haji sudah bersiap-siap meninggalkan Tanah Suci menuju tanah airnya masing-masing, setelah  menunaikan rukun Islam kelima. Perasaan riang dan gembira nampak dari wajah para <em>hujjaj</em>, setelah mereka berjuang untuk menunaikan seluruh manasik haji. Perjuangan dalam menunaikan ibadah haji merupakan perjuangan yang sangat berat. Perjuangan hidup dan mati. Perjuangan menemukan filsafat hidup yang sebenarnya. Mudah-mudahan jemaah haji tahun ini pun dapat meraih makna haji yang sebenarnya.</p>
<p><span id="more-485"></span>Gegap gempita ibadah haji seringkali tidak berbanding lurus  dengan perilaku sosial umat. Hal ini dikarenakan ibadah haji masih dianggap pesta individu atau dipahami sekadar ritual saja bahkan selebrasi. Padahal, jika ditinjau dari segi bahasa, haji bermakna <em>al-qashdu</em> yang berarti naik atau menuju. Makna ini mengisyaratkan pelakunya siap meninggalkan sekaligus menanggalkan kesenangan duniawi yang bersifat individual menuju pengabdian sosial. Keberangkatan haji dari tanah air menuju tanah suci merupakan transformasi orientasi <em>individual-material</em> menuju misi <em>sosial-spiritual</em>.</p>
<p>Makna <em>mabrur</em> yang merupakan indikator diterimanya ibadah haji berasal kata <em>al-birr</em>, berarti kebaikan. Dalam Alqur&#8217;an Allah berfirman: &#8221;<em>Kalian belum mencapai kebaikan (al-birr) hingga mampu mendermakan sebagian harta yang kalian cintai</em>.&#8221; (QS Ali Imran [3]: 92). Bahkan dalam hadits, Rasulullah ditanya, &#8221;<em>Apa makna mabrur</em>?&#8221; Dijawab, &#8221;<em>Suka memberi makan (bantuan sosial) dan lemah lembut dalam bicara</em>.&#8221; (HR Ahmad).</p>
<p>Dengan makna tersebut, nampak bahwa <em>mabrur </em>beriorientasi pada kebaikan secara sosial. Kemabruran tidak hanya diukur dari terpenuhinya syarat dan rukun (manasik) haji, namun juga sejauh mana implementasinya secara sosial.</p>
<p>Haji yang <em>mabrur</em> merupakan proses yang tidak terhenti begitu saja saat prosesi haji usai, tapi berlanjut pembuktiannya di masyarakat. Mabrur merupakan cita sosial para hujaj sepulangnya dari Tanah Suci dalam mengempati, mengemansipasi, dan mengangkat harkat martabat sesama dari kemiskinan, pengangguran, kebodohan, dan keterbelakangan. Dalam konteks inilah orang yang berangkat haji berkali-kali di kala masih banyak tetangga kelaparan sangat bertentangan dengan nilai luhur ajaran Islam dan berarti pula tumpul dalam menghayati cita revolusi sosial ibadah haji.</p>
<p>Ibadah haji bagi seorang Muslim secara artikulatif mempertemukan kewajiban yang bersifat individu dengan misi sosial. Usai ibadah haji, bukan berarti  usai dalam kewajibannya, bahkan kewajiban lain menanti, yakni pengabdian yang lebih tinggi. Sesuai dengan misi ajaran Islam yang paripurna, yaitu bersifat vertikal dan horizontal, maka mentalitas ke-<em>mabrur-an</em> dalam haji pun mesti terkomunikasikan baik vertikal, dengan semakin <em>commited</em> terhadap perintah Allah melalui ibadah (<em>al-mahdhah)</em>, juga secara sosial dalam pergaulan hidup bermasyarakat (<em>ghair al-mahdhah</em>).</p>
<p>Secara individual, ibadah haji adalah perjalanan manusia untuk kembali kepada fitrah kemanusiaannya. Kehidupan dunia ini telah melemparkan kita dari fitrah kemanusiaan. Kita telah menjadi makhluk yang rendah. Alih-alih menjadi khalifah Allah, manusia justru menjadi binatang.</p>
<p>Menurut Jalaluddin Rumi, kita adalah seruling bambu yang tercerabut dari rumpunnya. Lengkingan suara seruling yang keluar adalah jeritan pilu dari pecahan bambu yang ingin kembali ke rumpunnya semula. Kita akan menjadi bambu yang sejati bila kembali pada rumpun awalnya. Kita akan menjadi manusia sejati apabila kembali kepada Allah.</p>
<p>Jemaah haji adalah kafilah seruling yang ingin kembali ke rumpun abadinya. Rombongan binatang yang ingin menjadi manusia. Ketika berangkat dari tanah air, ia meninggalkan sifat kebinatangannya. Baju kepongahan, diganti dengan kain ihram, sebagai simbol kefitrahan dan seragam yang kelak akan dipakai menghadap Allah.</p>
<p>Di depan Rumah Allah, para <em>hujjaj</em> meng-<em>upgrade</em> kembali bai’atnya kepada Allah dengan mencium Hajar Aswad. Mengelilingi ka’bah (<em>thawaf</em>) bersama malaikat pemikul ‘Arasy sebagai bentuk komitmen kemanusiaan dengan pusat orientasi hidupnya adalah Allah. Di ‘Arafah, para ‘seruling’ itu kembali kepada rumpun bambunya. Mereka bergabung dengan manusia lainnya tenggelam dalam Lautan Ketuhanan.</p>
<p>Ibadah haji adalah ajang bagi seorang Muslim untuk menempa tanggung jawab keumatan kelak sepulangnya dari tanah suci. Para <em>hujjaj</em> berikutnya dituntut mempersiapkan diri untuk mengejawantahkan nilai-nilai so<strong>s</strong>io-spiritual haji sebagaimana yang ia peroleh saat melaksanakan manasik haji.</p>
<p>Setibanya di tanah air, sejatinya sebagai duta umat dan bangsa, para <em>hujjaj</em> harus bersiap diri untuk kembali berbaur dengan berbagai problematika keumatan dan secara aktif turut memberikan solusi pemecahannya. Para <em>hujjaj</em> dituntut untuk turut serta ambil bagian dalam pemberdayaan umat baik di bidang hukum, ekonomi, pendidikan, politik maupun budaya. Karena pada umumnya para hujaj tergolong kelas masyarakat menengah ke atas, maka sepulangnya dari tanah suci, ia akan semakin dermawan untuk menafkahkan sebahagiaan hartanya di jalan Allah.</p>
<p>Berangkat haji setiap tahun sah-sah saja bila ada kelebihan materi. Namun akan lebih produktif jika kelebihan itu dialokasikan membantu orang miskin, menyantuni anak yatim, memberi beasiswa pendidikan, menciptakan lapangan kerja, dan sebagainya.</p>
<p>Para <em>hujjaj</em> adalah duta yang diharapkan kembali ke pangkuan ummat dengan mengantongi predikat manusia suci yang memiliki <em>sensibilitas</em> sosial yang tinggi. Hal ini karena ibadah haji merupakan panggilan jihad yang membawa misi sosial guna mengentaskan ragam problematika kemanusiaan dalam hidup berbangsa dan bernegara.</p>
<p>Seandainya tidak turut serta secara aktif dalam menuntun ummat menuju jalan kehidupan yang lebih baik, setidaknya ia dapat menjadi teladan perilaku terpuji di tengah-tengah masyarakat. Para <em>hujjaj</em> dari kalangan pejabat, misalnya, jika tidak mampu memberantas korupsi, setidaknya dirinya tidak lalu menjadi koruptor baru sepulang dari haji. Jangan menjadikan gelar haji atau hajjah untuk menutupi kelakuan korup dan antisosialnya. Alih-alih  tidak mampu menjadi bagian dari pemberi solusi,  maka jangan menambah masalah yang baru.</p>
<p>Setibanya di tanah air, mudah-mudahan <em>atsar</em> manasik mereka mampu menyebarkan keberkahan di sekitarnya. Air zamzam mereka, mudah-mudahan menjadi tetesan-tetesan mukjizat yang menyirami kegersangan hati manusia dan menyuburkan keimanannya. Ketulusan niat mereka mudah-mudahan menghantam para pencinta dunia. Bibir bekas ciuman kepada Hajar Aswad, mampu menyebarkan kata-kata yang membawa kepada kebenaran. Tangan bekas melempar jumrah mampu digunakan untuk menghantam segala kesewenangan dan penindasan.</p>
<p>Selamat kepada para Hujjaj, mudah-mudahan wajah berseri mereka memberikan kesejukan dan kedamaian di tengah kegersangan manusia dan semoga kerinduan kami untuk merasakan mencium Hajar Aswad pun segera Allah kabulkan  di tahun-tahun yang akan dating. Amiin Ya Mujibassailin….</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhammadirfani.wordpress.com/485/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhammadirfani.wordpress.com/485/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhammadirfani.wordpress.com/485/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhammadirfani.wordpress.com/485/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhammadirfani.wordpress.com/485/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhammadirfani.wordpress.com/485/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhammadirfani.wordpress.com/485/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhammadirfani.wordpress.com/485/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhammadirfani.wordpress.com/485/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhammadirfani.wordpress.com/485/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhammadirfani.wordpress.com/485/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhammadirfani.wordpress.com/485/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhammadirfani.wordpress.com/485/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhammadirfani.wordpress.com/485/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhammadirfani.wordpress.com&amp;blog=5762265&amp;post=485&amp;subd=muhammadirfani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhammadirfani.wordpress.com/2011/11/13/nilai-nilai-luhur-ibadah-haji/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c91a4fac0914a02f3695287d1cc0ef25?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">abu irfani</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://muhammadirfani.files.wordpress.com/2011/11/masjidil-haram-mekah-saudi-arabia.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">masjidil-haram-mekah-saudi-arabia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ANTARA MEMILIKI DAN DIPINJAMI</title>
		<link>http://muhammadirfani.wordpress.com/2011/11/05/antara-memiliki-dan-dipinjami/</link>
		<comments>http://muhammadirfani.wordpress.com/2011/11/05/antara-memiliki-dan-dipinjami/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Nov 2011 04:13:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Usep Supriatna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keislaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhammadirfani.wordpress.com/?p=481</guid>
		<description><![CDATA[‘Idul Adha, hari raya terbesar bagi umat Islam, selain Idul Fithri yang kita rayakan sekitar dua bulan yang lalu. Hari raya Idul Adha juga merupakan hari raya istimewa karena dua ibadah agung dilaksanakan pada hari raya ini yang jatuh di penghujung tahun hijriyah, yaitu ibadah haji dan ibadah qurban. Sekitar tiga juta umat Islam dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhammadirfani.wordpress.com&amp;blog=5762265&amp;post=481&amp;subd=muhammadirfani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://muhammadirfani.files.wordpress.com/2011/11/qurban.gif"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-482" title="Qurban" src="http://muhammadirfani.files.wordpress.com/2011/11/qurban.gif?w=150&#038;h=119" alt="" width="150" height="119" /></a>‘Idul Adha, hari raya terbesar bagi umat Islam, selain Idul Fithri yang kita rayakan sekitar dua bulan yang lalu. Hari raya Idul Adha juga merupakan hari raya istimewa karena dua ibadah agung dilaksanakan pada hari raya ini yang jatuh di penghujung tahun hijriyah, yaitu ibadah haji dan ibadah qurban.</p>
<p><span id="more-481"></span>Sekitar tiga juta umat Islam dari beragam suku, bangsa dan ras serta dari berbagai tingkat sosial dan penjuru dunia berkumpul dan berbaur di kota suci Makkah Al-Mukarramah untuk memenuhi panggilan Allah menunaikan ibadah haji.</p>
<p>“<em>Dan serulah manusia untuk menunaikan ibadah haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus</em><strong><em></em></strong><em>yang datang dari segenap penjuru yang jauh</em>“. (Al-Hajj: 27)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kedua-duanya disebut oleh Al-Qur’an sebagai salah satu dari syi’ar-syi’ar Allah swt yang harus dihormati dan diagungkan oleh hamba-hambaNya. Mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah merupakan pertanda dan bukti akan ketaqwaan seseorang seperti yang ditegaskan dalam firmanNya:</p>
<p><em>“Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya hal itu adalah hasil dari ketakwaan dalam hati”. (Al-Hajj: 33) </em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ibadah haji dan ibadah qurban, merupakan perwujudan dari sikap seorang hamba yang merasakan kedekatannya dengan Allah. Bagi mereka yang posisinya dekat dengan Allah akan sangat mudah untuk mengorbankan segala yang dimilikinya semata-mata memenuhi perintah Allah swt.</p>
<p>Mencapai posisi dekat dengan Allah tentu bukan merupakan bawaan sejak lahir. Melainkan hasil dari latihan atau <em>mujahadah</em> dalam menjalankan apa saja yang diperintahkan Allah. Sebab, seringkali terjadi benturan antara keinginan diri (hawa nafsu) dengan keinginan Allah (ibadah). Disinilah akan nyata keberpihakan seseorang apakah kepada Allah atau kepada selainNya. Sehingga selalu bersedia dan merasa ringan ketika harus mengorbankan keinginan dan kesenangan, demi keberpihakannya kepada Allah. Ibadah haji dan ibadah qurban merupakan gerbang mencapai kedekatan kita dengan Allah swt.</p>
<p>Contoh  manusia yang begitu dekat dengan Allah yang karenanya diberi gelar <em>Khalilullah</em> (kekasih Allah) adalah Ibrahim as. Sosok Ibrahim dengan kedekatan dan kepatuhannya secara paripurna kepada Allah salah satunya ditunjukkan dalam peristiwa penyembelihan putranya, Ismail as.</p>
<p>Dalam peristiwa sejarah yang besar itu, Nabi Ibrahim tampil sebagai manusia pertama yang mendapat ujian pengorbanan dari Allah swt. Ia harus menunjukkan ketaatannya yang totalitas dengan menyembelih putra kesayangannya yang dinanti kelahirannya sekian lama.</p>
<p>Makna yang terpenting peristiwa itu, bukanlah sekedar dari pengorbanan yang bermakna negatif, dimana seseorang melepaskan sesuatu dengan yang tidak ia kehendaki. Ketika Nabiyullah Ibrahim menyembelih putranya itu dan ketika sang anak itu merelakan nyawanya, tidaklah berarti Ibrahim mengorbankan anaknya dan Ismail mengorbankan hidupnya. Yang mereka lakukan semata-mata adalah keikhlasan menyampaikan kembali milik Allah kepada-Nya. Dalam skala yang lebih luas, kepasrahan dan pengorbanan tersebut merupakan wujud dari sikap melebur dan menyatukan diri dengan kehendak Allah, semata-mata untuk meraih keridlaan-Nya. Itulah makna Tauhid yang sebenarnya.</p>
<p><em>“dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya”. (QS. Al-Baqarah : 207)</em></p>
<p>Orang-orang yang bertauhid menyadari betul bahwa kehadiran dirinya di dunia ini tak pernah ia kehendaki sendiri. Ia tak pernah merancang, meniati dan bahkan tak pernah memiliki keinginan akan menjadi ini dan itu, ketika berada di dunia ini.</p>
<p>Manusia tak pernah, dalam arti yang sesungguhnya, memiliki dirinya sendiri serta apapun yang lain dalam kehidupannya. Ia ada karena ada sesuatu yang memungkinkan dan mengijinkannya untuk ada. Ia “memiliki” sesuatu dalam keberadaanya itu bukan karena <em>haq</em>-nya adalah memiliki sesuatu, melainkan karena ada sesuatu yang “meminjamkan” kepadanya. Ia bisa berjalan dan menggerakkan tubuhnya bukan karena sejak semula ia merencanakan dan menentukan bahwa ia bisa berjalan dan menggerakkan badan, melainkan karena ada sesuatu yang menungkinkan dan mengijinkan-Nya bisa berjalan dan menggerakkan badan.</p>
<p>Sesuatu yang satu-satunya ada dan pasti ada, yang sejati dan pasti sejati, yang memiliki hak seratus persen untuk menagih atau meminta kembali segala milik-Nya, kapanpun dan dimana pun, serta dengan cara yang bagaimana pun,  adalah Allah ‘Azza Wajalla.</p>
<p>Jadi, apa yang dilakukan oleh Ibrahim dan Ismail, hanyalah mengembalikan hak Allah kepada-Nya, tidak ada apapun yang hilang dari keduanya dengan penyembelihan itu, karena memang aslinya  mereka tidak pernah ada dan tidak memiliki apapun, bahkan dirinya sekali pun.</p>
<p>Dalam kenyataan kehidupan manusia, bahwa sejak keberadaanya di dunia ini, manusia memahami “barang pinjaman” dari Allah itu sebagai “barang miliknya”. Seorang Ibrahim bisa saja ia merasa <em>possesif</em> atau rasa memiliki terhadap Ismail, karena ia anaknya dan sangat dicintainya. Ismail bisa juga dihinggapi rasa memiliki atas dirinya sendiri, atas nyawanya, atas seluruh kehidupannya, bahkan atas segala sesuatu yang bisa dinikmatinya.</p>
<p>Maka tatkala mereka mengikhlaskan “milik” itu diminta kembali oleh Yang Maha Memiliki, Ibrahim dan Ismail mencapai tingkat fithri dan sukses menghayati makna qurban, sambil sama skali tak merasa mengorbankan diri.</p>
<p>Dari titik pemahaman ini kita bisa mengambil hikmah yang tak ternilai harganya mengenai hakekat kepemilikan dan pinjaman.</p>
<p>Menurut Ali Syariati, Isma’il adalah sekedar simbol. Simbol dari segala yang kita miliki dan cintai dalam hidup ini. Kalau Isma’ilnya nabi Ibrahim adalah putranya sendiri, lantas siapa Isma’il kita? Bisa jadi diri kita sendiri, keluarga kita, anak dan istri kita, harta, pangkat dan jabatan kita. Yang jelas seluruh yang kita miliki bisa menjadi Isma’il kita yang karenanya akan diuji dengan itu. Kecintaan kepada Isma’il itulah yang kerap membuat iman kita goyah atau lemah untuk mendengar dan melaksanakan perintah Allah. Kecintaan kepada Isma’il yang berlebihan juga akan membuat kita menjadi egois, mementingkan diri sendiri, dan serakah tidak mengenal batas kemanusiaan. Allah mengingatkan kenyataan ini dalam firmanNya:</p>
<p>“<em>Katakanlah: jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik</em>“. (At-Taubah: 24)</p>
<p>Karena itu, dengan melihat keteladanan berqurban yang telah ditunjukkan oleh seorang Ibrahim, apapun Isma’il kita, apapun yang kita cintai, qurbankanlah manakala Allah menghendaki. Janganlah kecintaan terhadap isma’il-isma’il itu membuat kita lupa kepada Allah. Tentu, negeri ini sangat membutuhkan hadirnya sosok Ibrahim yang siap berbuat untuk kemaslahatan orang banyak meskipun harus mengorbankan apa yang dicintainya.</p>
<p>Keta’atan yang tidak kalah teguhnya dalam menjalankan perintah Allah adalah keta’atan Isma’il untuk memenuhi tugas bapaknya. Pertanyaan besarnya adalah: kenapa Isma’il, seorang anak yang masih belia rela menyerahkan jiwanya?. Bagaimanakan Isma’il memiliki kepatuhan yang begitu tinggi?. Nabi Ibrahim senantiasa berdoa:</p>
<p><em> “Tuhanku, anugerahkan kepadaku anak yang shalih (Ash-Shaffat: 100). </em></p>
<p>Maka Allah mengkabulkan doanya:</p>
<p><em> “Kami beri kabar gembira kepada Ibrahim bahwa kelak dia akan mendapatkan ghulamun halim”.</em> (Ash-Shaffat: 101).</p>
<p>Inilah rahasia kepatuhan Isma’il yang tidak lepas dari peran serta orang tuanya dalam proses bimbingan dan pendidikan. Sosok <em>ghulamun halim </em>dalam arti seorang yang santun, yang memiliki kemampuan untuk mensinergikan antara rasio dengan akal budi tidak mungkin hadir begitu saja tanpa melalui proses pembinaan yang panjang. Sehingga dengan tegar Isma’il berkata kepada ayahandanya dengan satu kalimat yang indah: :</p>
<p><em>“Wahai ayah, laksanakanlah apa yang diperintahkan Allah, niscaya ayah akan mendapatiku seorang yang tabah hati, insya Allah”</em>. (Ash-Shaffat: 102)</p>
<p>Orang tua mana yang tak terharu dengan jawaban seorang anak yang ringan menjalankan perintah Allah yang dibebankan kepada pundak ayahandanya. Ayah mana yang tidak terharu melihat sosok anaknya yang begitu lembut hati dan perilakunya. Disinilah pentingnya pendidikan keagamaan bagi seorang anak semenjak mereka masih kecil lagi, jangan menunggu ketika mereka remaja apalagi dewasa. Sungguh keteladanan Ibrahim bisa dibaca dari bagaimana ia mendidik anaknya sehingga menjadi seorang yang berpredikat ‘<em>ghulamun halim’</em>.</p>
<p>Setelah mencermati dua pelajaran kehidupan keberagamaan yang sangat berharga di atas, Prof. Dr. Mushthafa Siba’i pernah mengajukan pertanyaan menarik yang menggugah hati: <em>“Akankah seorang muslim di hari raya ini menjadi sosok egois yang mencintai dirinya sendiri dan mementingkan kepentingan dirinya sendiri di atas kepentingan orang lain? Ataukah ia akan menjadi pribadi yang mementingkan orang lain di bandingkan dirinya, lalu mendahulukan kepentingan orang lain atas kepentingan dirinya tersebut?</em></p>
<p>Memang secara fithrah, manusia cenderung bersikap egois dan mementingkan diri sendiri. Ia melihat kepentingan orang lain melalui kepentingan dirinya. Namun demikian, disamping itu semua, manusia pada dasarnya adalah makhluk yang cenderung untuk saling bekerjasama, memilih untuk bermasyarakat dibandingkan menyendiri, dan pada gilirannya akan mendorong dirinya untuk merelakan sebagian haknya untuk orang lain, sehingga dari kerjasama tersebut ia dapat mengambil manfaat berupa perwujudan kehormatan dan kepentingannya. Oleh karena itu, beberapa macam pengorbanan dan pendahuluan kepentingan orang lain, menjadi bagian dari keharusan dalam bangunan masyarakat yang tanpa keberadaannya, masyarakat tidak akan dapat hidup dengan bahagia.</p>
<p>Dalam hal ini, tentu kita sepakat bahwa kita sangat berhutang budi dalam setiap kenikmatan hidup material maupun non-material terhadap orang-orang yang telah berkorban dan mendahulukan kepentingan orang lain. Kita berhutang budi dalam memanfaatkan negeri ini kepada orang tua generasi pendahulu, para perintis dan mereka yang telah berjasa untuk itu. Kita juga berhutang budi dalam masalah aqidah dan agama yang kita banggakan ini, kepada generasi salaf saleh yang menanggung bermacam kesulitan dan derita dalam mempertahankan risalah ini pada masa pertamanya, dan yang telah mengorbankan harta dan jiwa mereka menghadapi musuh-musuh Islam untuk menyampaikan agama ini kepada orang-orang setelah mereka, mereka pula yang telah menghilangkan banyak rintangan yang disebarkan oleh para pencela, pengingkar dan pendusta agama ini.</p>
<p>Demikian sungguh pelajaran yang sangat berharga. Kita selaku generasi masa kini telah berhutang budi kepada generasi-genersai sebelumnya dalam seluruh apa yang kita ni`mati saat ini sebagai hasil dari pengorbanan, perjuangan dan sikap mereka yang mendahulukan kepentingan orang lain. Maka sepatutnyalah jika kita melanjutkan rangkaian pengorbanan mereka itu sehingga kita dapat menyampaikan keni`matan ini kepada generasi berikutnya seperti yang telah dilakukan oleh generasi sebelum kita.</p>
<p>Disini hari raya Idul Adha kembali hadir untuk mengingatkan kita akan ketinggian nilai ibadah haji dan ibadah qurban yang sarat dengan pelajaran kesetiakawanan, ukhuwwah, pengorbanan dan mendahulukan kepentingan dan kemaslahatan orang lain. Semoga akan lahir keluarga-keluarga Ibrahim berikutnya dari bumi tercinta Indonesia ini yang layak dijadikan contoh teladan dalam setiap kebaikan untuk seluruh umat. <em>Wallahu’alam.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>‘’SELAMAT MERAYAKAN IDUL ADHA 1432 H”</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhammadirfani.wordpress.com/481/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhammadirfani.wordpress.com/481/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhammadirfani.wordpress.com/481/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhammadirfani.wordpress.com/481/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhammadirfani.wordpress.com/481/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhammadirfani.wordpress.com/481/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhammadirfani.wordpress.com/481/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhammadirfani.wordpress.com/481/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhammadirfani.wordpress.com/481/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhammadirfani.wordpress.com/481/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhammadirfani.wordpress.com/481/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhammadirfani.wordpress.com/481/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhammadirfani.wordpress.com/481/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhammadirfani.wordpress.com/481/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhammadirfani.wordpress.com&amp;blog=5762265&amp;post=481&amp;subd=muhammadirfani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhammadirfani.wordpress.com/2011/11/05/antara-memiliki-dan-dipinjami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c91a4fac0914a02f3695287d1cc0ef25?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">abu irfani</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://muhammadirfani.files.wordpress.com/2011/11/qurban.gif?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Qurban</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ANTARA &#8216;IDUL FITRI DAN &#8216;IDUL KIBRI</title>
		<link>http://muhammadirfani.wordpress.com/2011/09/01/antara-idul-fitri-dan-idul-kibri/</link>
		<comments>http://muhammadirfani.wordpress.com/2011/09/01/antara-idul-fitri-dan-idul-kibri/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Sep 2011 23:06:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Usep Supriatna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keislaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhammadirfani.wordpress.com/?p=476</guid>
		<description><![CDATA[Ramadhan, momen tahunan yang diharapkan bisa memperbaiki banyak hal dalam hidup ini, telah meninggalkan kita. Banyak hal yang bisa kita dapatkan selama sebulan penuh itu, untuk diimplementasi pada bulan-bulan yang akan kita jelang. Sejatinya, jika kita telah memaksimalkan bulan ramadhan dengan beraneka ibadah sesuai tuntunan sunnah, maka diyakini akan mampu mengubah cara pandang kita terhadap [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhammadirfani.wordpress.com&amp;blog=5762265&amp;post=476&amp;subd=muhammadirfani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ramadhan, momen tahunan yang diharapkan bisa memperbaiki banyak hal dalam h<a href="http://muhammadirfani.files.wordpress.com/2011/09/ketupat.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-477" title="KETUPAT" src="http://muhammadirfani.files.wordpress.com/2011/09/ketupat.jpg?w=450" alt=""   /></a>idup ini, telah meninggalkan kita. Banyak hal yang bisa kita dapatkan selama sebulan penuh itu, untuk diimplementasi pada bulan-bulan yang akan kita jelang. Sejatinya, jika kita telah memaksimalkan bulan ramadhan dengan beraneka ibadah sesuai tuntunan sunnah, maka diyakini akan mampu mengubah cara pandang kita terhadap hakekat kehidupan kita di dunia ini.<span id="more-476"></span></p>
<p>Ibadah puasa yang telah kita jalani selama satu bulan, merupakan salah satu bentuk tarbiyah bagi jiwa manusia agar bisa memiliki sikap pengendalian diri dari gelegak hawa nafsu yang sering melacurkan manusia pada lembah yang penuh nista dan kehancuran. Puasa akan  mampu mengantarkan manusia pada kebebasan dari belenggu kebiasaan-kebiasaan buruk yang menghambat proses pencapaian derajat <em>ahsanu takwin</em> (sebaik-baik penciptaan), bahkan alih-alih manusia meluncur pada derajat <em>asfala safilin </em>(serendah-rendahnya penciptaan).</p>
<p>Idul Fitri yang menandai berakhirnya bulan ramadhan, sejatinya juga  merupakan tonggak untuk memproklamirkan kemenangan sejati. Kemenangan sejati bukanlah kemenangan atas orang lain. Kemenangan sejati adalah kemenangan atas nafsu diri sendiri, sehingga tidak lagi dijajah oleh keinginan syahwat yang sering menjerumuskan manusia pada lembah kehinaan. Jadi, idul fitri bukan merupakan gerbang untuk memasuki alam kebebasan dan serba boleh serta membiarkan syahwat kembali menjadi liar, karena menganggap telah dikebiri selama ibadah puasa. Hawa nafsu  yang telah dikendalikan akan memudahkan manusia menuju derajat <em>ahsanu takwim</em>.</p>
<p>Oleh karena itulah, Hari Raya Idul fitri  harus dijadikan ujian pertama untuk mengukur keberhasilan puasa. Berbagai macam godaan hedonisme dan konsumerisme bertopengkan keperluan idul fitri seringkali menguji kegiatan olah spiritual kita setelah kita berpuasa. Hanya kita sering  tidak sadar bahwa itu merupakan jerat setan yang hendak melunturkan pencapaian tujuan ibadah di bulan Ramadan. Tidak sedikit yang menganggap bahwa idul fitri adalah perayaan kemenangan mengalahkan nafsu setelah berpuasa, sehingga pada hari raya idul fitri kesempatan untuk memproklamirkan kebebasan dan serba boleh. Bahkan tak sedikit hari raya Idul Fitri dijadikan arena pamer dan kesombongan. Sehingga Idul Fitri seolah-olah diidentikkan dengan <strong><em>Idul Kibri  </em></strong>(hari raya kesombongan).</p>
<p>Idul Fitri menjadi momentum yang paling tepat untuk ber-<em>tafakur</em> (introspeksi) atas kekurangan-kekurangan ibadah kita selama ini, kita tidak pernah tahu dan yakin apakah di tahun depan kita bisa kembali menjadi tamu Allah di bulan Ramadhan.  Idul Fitri nanti adalah proklamasi bagi peningkatan ketaatan dan ketakwaan kita. Idul Fitri tidak identik dengan pakaian yang serba baru, pepatah Arab mengatakan , <em>“Laisa al-‘id li man labisa al-jadid, wa lakin al-‘id li m</em><em>an tha’atika al-tajid</em> (Bukanlah hari raya ‘Id bagi orang yang pakaiannya baru, tapi hari raya ‘Id adalah bagi orang yang ketaatannya bertambah).</p>
<p>SELAMAT MERAYAKAN IDUL FITRI</p>
<p>TAQABBALALLAHU MINNA WAMINKUM</p>
<p>KULLU AMIN ANTUM BIKHAIR</p>
<p>SEMOGA MENDAPAT KEMENANGAN SEJATI</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhammadirfani.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhammadirfani.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhammadirfani.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhammadirfani.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhammadirfani.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhammadirfani.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhammadirfani.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhammadirfani.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhammadirfani.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhammadirfani.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhammadirfani.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhammadirfani.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhammadirfani.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhammadirfani.wordpress.com/476/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhammadirfani.wordpress.com&amp;blog=5762265&amp;post=476&amp;subd=muhammadirfani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhammadirfani.wordpress.com/2011/09/01/antara-idul-fitri-dan-idul-kibri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c91a4fac0914a02f3695287d1cc0ef25?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">abu irfani</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://muhammadirfani.files.wordpress.com/2011/09/ketupat.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">KETUPAT</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://muhammadirfani.wordpress.com/2011/09/01/473/</link>
		<comments>http://muhammadirfani.wordpress.com/2011/09/01/473/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Sep 2011 22:51:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Usep Supriatna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keislaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhammadirfani.wordpress.com/?p=473</guid>
		<description><![CDATA[Usep Supriatna dan keluarga mengucapkan selamat Hari Raya  &#8216;Idul Fitri 1432 H, semoga ibadah-ibadah kita di bulan Ramadhan yang lalu memberi atsar dalam kehidupan yang akan kita jalani ke depan.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhammadirfani.wordpress.com&amp;blog=5762265&amp;post=473&amp;subd=muhammadirfani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://muhammadirfani.files.wordpress.com/2011/09/kartu-lebaran-1432-h2.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-474" title="Kartu lebaran 1432 H2" src="http://muhammadirfani.files.wordpress.com/2011/09/kartu-lebaran-1432-h2.jpg?w=120&#038;h=150" alt="Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H" width="120" height="150" /></a> Usep Supriatna dan keluarga mengucapkan selamat Hari Raya  &#8216;Idul Fitri 1432 H, semoga ibadah-ibadah kita di bulan Ramadhan yang lalu memberi <em>atsar</em> dalam kehidupan yang akan kita jalani ke depan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhammadirfani.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhammadirfani.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhammadirfani.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhammadirfani.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhammadirfani.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhammadirfani.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhammadirfani.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhammadirfani.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhammadirfani.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhammadirfani.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhammadirfani.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhammadirfani.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhammadirfani.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhammadirfani.wordpress.com/473/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhammadirfani.wordpress.com&amp;blog=5762265&amp;post=473&amp;subd=muhammadirfani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhammadirfani.wordpress.com/2011/09/01/473/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c91a4fac0914a02f3695287d1cc0ef25?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">abu irfani</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://muhammadirfani.files.wordpress.com/2011/09/kartu-lebaran-1432-h2.jpg?w=120" medium="image">
			<media:title type="html">Kartu lebaran 1432 H2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MEMBERI MAKNA TRANSENDEN BAGI PERJALANAN MUDIK</title>
		<link>http://muhammadirfani.wordpress.com/2011/08/26/memberi-makna-transenden-bagi-perjalanan-mudik/</link>
		<comments>http://muhammadirfani.wordpress.com/2011/08/26/memberi-makna-transenden-bagi-perjalanan-mudik/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Aug 2011 14:28:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Usep Supriatna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keislaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhammadirfani.wordpress.com/?p=467</guid>
		<description><![CDATA[ Keunggulan manusia dari makhluk lainnya terletak pada kemampuannya untuk memberi makna dan menetapkan tujuan dari kehidupannya. Memberi makna hidup adalah proses pembentukan kualitas hidup, sedangkan tujuan hidup menunjukkan arah, rujukan, dasar pijakan dan sekaligus hasil yang ingin diraih. Manusia, akan mencapai kesempurnaannya spriritualnya apabila mampu memberikan makna dan menetapkan tujuan terhadap hidup yang dijalaninya. Jika [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhammadirfani.wordpress.com&amp;blog=5762265&amp;post=467&amp;subd=muhammadirfani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em> </em>Keunggulan manusia dari makhluk lainnya terletak pada kemampuannya untuk memberi makna dan menetapkan tujuan dari kehidupannya. Memberi makna hidup adalah proses pe<em><a href="http://muhammadirfani.files.wordpress.com/2011/08/mudik.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-468" title="mudik" src="http://muhammadirfani.files.wordpress.com/2011/08/mudik.jpg?w=114&#038;h=93" alt="" width="114" height="93" /></a></em>mbentukan kualitas hidup, sedangkan tujuan hidup menunjukkan arah, rujukan, dasar pijakan dan sekaligus hasil yang ingin diraih.</p>
<p>M<span id="more-467"></span>anusia, akan mencapai kesempurnaannya spriritualnya apabila mampu memberikan makna dan menetapkan tujuan terhadap hidup yang dijalaninya. Jika tidak, manusia takkan pernah bisa menyempurnakan kemanusiaannya. Ia hanyalah robot berdaging yang hidup di bumi dengan segala aktivitas yang bernilai relatif dan dijalankannya hari demi hari, sekedar menunggu waktu saat kematiannya.</p>
<p>Upaya un<em></em>tuk memberi makna dan menetapkan tujuan hidupnya bisa tercapai apabila manusia mengarahkan perhatiannya pada prinsip-prinsip primordialnya, yaitu memiliki semangat untuk “<em>pulang kembali</em>” pada awal dari keberadaannya. Allah Swt selalu mengingatkkan pada kita bahwa manusia harus mempun<em></em>yai misi dan kesadaran bahwa ia berada dalam sebuah perjalanan atau perantauan yang pasti kan tiba pada titik permulaannya, yaitu pangkuan Allah Swt. Dia berfirman, <em>“Wahai manusia, sesungguhnya engkau bersusah payah menuju Tuhanmu, maka pasti engkau akan menemui-Nya” </em>(QS. Al-Insyiqaq : 5).</p>
<p>Firman Allah<em></em> diatas memberi isyarat pada kita bahwa setiap manusia itu harus mempunyai misi dan kesadaran bahwa dirinya sedang berada dalam sebuah perjalanan atau perantauan yang pasti akan kembali ke tempat ia mulai perjalanan, sebagaimana seseorang yang sedang ditimpa musibah, selalu berkata, “<em>Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, sesungguhnya kita berasal dari Allah dan akan kemb</em><em></em><em>ali kepada-Nya</em>”.</p>
<p>Kembali kepada Allah berarti kembali ke tempat asal, kampung halaman tempat beristirahat dan menikmati seluruh jerih payah yang diusahakannya Selama di perantauan, semangat untuk pulang kembali, adalah kerinduan untuk bertemu dan melihat <em></em>wajah kekasihnya dengan hati yang tulus, total dan pasrah. Orang yang dilanda kerinduan dan cinta yang bergelora di relung kalbunya, dipastikan akan selalu gelisah jika kerinduannya tidak ditumpahkan ketika perjumpaan dengan kekasihnya.</p>
<p>Analogi untuk men<em></em>ggambarkan betapa besarnya kerinduan untuk kembali kepada kampung halaman, tempat ia berasal, bisa kita saksikan beberapa saat lagi, ketika menjelang Hari Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri, yaitu tradisi <em>mudik</em>. Mudik adalah salah satu cara untuk mengunjungi kampung halaman dan bersilaturrahmi kepada orang tua, saudara, teman, guru, serta handai taulan. Mudik merupakan pem<em></em>andangan tahunan yang memberi nuansa lain di penghujung bulan Ramadhan.</p>
<p>Berjejal-jejalan di stasiun kereta, di terminal bis dan bermacet-macetan dijalan raya, tidak membuat para pemudik kapok dan tidak melakukannya ditahun berikutnya. Malah  yang terjadi justru sebaliknya, setiap tahun adanya peningkatan jumlah pemudik. Bagi mereka siksaan seperti itu adalah bagian dari kebahagiaan itu sendiri, sebagai resiko karena ingin meraih kebahagiaan sebenarnya tatkala bisa sampai di kampung halaman, tempat kelahirannya.</p>
<p>Bagi mereka<em></em>, hari raya adalah kemewahan dan pencurahan kebahagiaan  yang tidak mereka dapatkan sehari-hari. Boleh saja orang bilang bahwa itu adalah akibat urbanisasi atau modernisasi yang timpang antara desa dan kota. Tetapi itulah biaya dari berputarnya terus roda kehidupan yang tidak bisa dihentikan. Yang pasti siksaan yang diakibatkan oleh perjalanan mudik yang melelahkan itu adalah sejenis k<em></em>ebahagiaan yang harus diteguk agar keinginan untuk mengobati kerinduan kepada kampung  halamannya bisa diraih.</p>
<p>Tradisi mudik lebaran yang merupakan momen pertemuan antara  nilai keislaman dengan budaya bangsa itu sejatinya harus memberi  makna dan pesan moral bagi proses penguatan kesadaran kemanusiaan kita dan semakin mengukuhkan rasa primordialitas, bahwa kerinduan pada kampung kelahiran tidak bisa dile<em></em>paskan dalam diri manusia. Jika ditarik lebih jauh lagi, maka kita akan menemukan hakikat primordialisme itu sebagai <em>fitrah</em> (naluri) kemanusiaan. Bahwa manusia, meminjam istilah Jalaluddin Rumi, adalah seruling bambu yang tercerabut dari rumpunnya. Lengkingan pilu suara seruling itu adalah jeritan rindu manusia untuk kembali kepada “rumpun sejatinya”.</p>
<p>Manusia, sejatinya tidak akan pernah melupakan tempat dimana asal-muasalnya berada. Nurani yang ada dalam diri manusia akan selalu mengingatka<em></em>n bahwa di dunia ini bukanlah tempat tinggal sejatinya. Nurani akan selalu menyadarkan kita bahwa asal kita adalah di “tempat luhur’ yang penuh keabadiaan, bukan di alam rendah ini yang penuh kepalsuan. Namun, agar kita layak untuk kembali berada di tempat yang luhur maka kesucian diri harus dikembalikan (‘<em>Idul Fithri</em>) melalui laku dan perbuatan yang dijiwai nilai keimanan dan a<em></em>mal shaleh.</p>
<p><em>“Barangsiapa m</em><em></em><em>engharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”</em> (QS. Al-Kahfi : 110)</p>
<p><em>Wallahu’alam</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhammadirfani.wordpress.com/467/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhammadirfani.wordpress.com/467/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhammadirfani.wordpress.com/467/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhammadirfani.wordpress.com/467/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhammadirfani.wordpress.com/467/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhammadirfani.wordpress.com/467/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhammadirfani.wordpress.com/467/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhammadirfani.wordpress.com/467/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhammadirfani.wordpress.com/467/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhammadirfani.wordpress.com/467/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhammadirfani.wordpress.com/467/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhammadirfani.wordpress.com/467/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhammadirfani.wordpress.com/467/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhammadirfani.wordpress.com/467/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhammadirfani.wordpress.com&amp;blog=5762265&amp;post=467&amp;subd=muhammadirfani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhammadirfani.wordpress.com/2011/08/26/memberi-makna-transenden-bagi-perjalanan-mudik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c91a4fac0914a02f3695287d1cc0ef25?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">abu irfani</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://muhammadirfani.files.wordpress.com/2011/08/mudik.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">mudik</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MEMAKNAI KEMERDEKAAN</title>
		<link>http://muhammadirfani.wordpress.com/2011/08/16/memaknai-kemerdekaan/</link>
		<comments>http://muhammadirfani.wordpress.com/2011/08/16/memaknai-kemerdekaan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Aug 2011 14:58:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Usep Supriatna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keislaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhammadirfani.wordpress.com/?p=463</guid>
		<description><![CDATA[Nuansa perayaan kemerdekaan RI ke-66 masih tetap berdenyut dijantung bangsa ini, meski tak se-gegap gempita perayaan dua tahun sebelumnya, karena  HUT RI tahun lalu dan sekarang tepat berada di bulan Ramadhan.   Namun tentu saja, momen seperti ini memiliki makna yang sangat mendalam, khususnya bagi umat Islam Indonesia, karena proklamasi yang dikumandangkan oleh Bung Karno dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhammadirfani.wordpress.com&amp;blog=5762265&amp;post=463&amp;subd=muhammadirfani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nuansa perayaan kemerdekaan RI ke-66 masih tetap berdenyut dijantung bangsa ini, me<a href="http://muhammadirfani.files.wordpress.com/2011/08/naskahproklamasitt.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-464" title="NaskahProklamasiTT" src="http://muhammadirfani.files.wordpress.com/2011/08/naskahproklamasitt.jpg?w=155&#038;h=111" alt="" width="155" height="111" /></a>ski tak se-gegap gempita perayaan dua tahun sebelumnya, karena  HUT RI tahun lalu dan sekarang tepat berada di bulan Ramadhan.   Namun tentu saja, momen seperti ini memiliki makna yang sangat mendalam, khususnya bagi umat Islam Indonesia, karena proklamasi yang dikumandangkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta tahun 1945 itu pun terjadi di bulan Ramadhan,  sehingga merupakan peristiwa sejarah yang bukan saja bernilai secara politis, tetapi juga bermakna religius.</p>
<p><span id="more-463"></span>Aroma kebangsaan yang dibalut semangat nasionalisme dengan nuansa lebih religius ini adalah sebuah <em>euphoria</em> yang kerap muncul dari anak bangsa ini setiap memasuki bulan Agustus. Biasanya, jauh-jauh hari sebelum tanggal 17 Agustus, pernak-pernik &#8216;agustusan&#8217; sudah menghiasi diberbagai tempat. Umbul-umbul, baliho, spanduk, gapura dan tak ketinggalan bendera-bendera mulai ukuran kecil sampai besar, terpasang dipinggiran jalan, menjadi pemandangan yang amat menarik. Bahkan kegiatan-kegiatan perlombaan, mulai dari tarik tambang, balap karung sampai panjat pinang, tak luput menghiasi ekspresi kegembiraan dari perayaan kemerdekaan.</p>
<p>Pertanyaan yang kerap muncul dan menjadi bahan renungan setiap kali melewati bulan Agustus adalah : Apakah makna kemerdekaan bagi sebuah bangsa ? Apakah  kemerdekaan suatu bangsa yang dikumandangkan itu hanyalah bersifat politik belaka? Apakah kemerdekaan yang diproklamasikan tahun 1945 itu masih relevan dengan kondisi bangsa saat ini ? Tidak mudah untuk memeri jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut,  karena setiap jawaban yang diberikan pun ternyata akan berbenturan dengan realita yang terjadi sebenarnya. Tidak mudah merumuskan hakekat kemerdekaan sebagai terbebasnya umat manusia segala bentuk penjajahan, apalagi bila kemudian jenis-jenis penjajahan itu mengalami metamorfosa ke model-model penjajahan gaya baru (<em>neoimperialisme</em>) yang kerap membelenggu umat manusia.</p>
<p>Bila kita menakar kemerdekaan bangsa ini dengan parameter konstitusi yakni Pembukaan UUD’45, khususnya alinea ke-4, setidak-tidaknya ada tiga hal penting yang perlu mendapat perhatian kita semua, yaitu kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan penegakkan keadilan. Kenyataannya, setelah 66 tahun merdeka, jeritan untuk terciptanya kesejahteraan umum, kecerdasan kehidupan bangsa dan keadilan, masih terus berdengung. Mungkin tidak lebih dari 10 persen yang sudah merasakan kondisi hidup yang benar-benar sejahtera dan memperoleh hak kecerdasan itu, baik di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial-ekonomi, dan lebih dari itu kesejahteraan dan keadilan masih tetap diawang-awang.</p>
<p>Kemerdekaan yang sejatinya harus mampu mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang keadilan dan kemakmuran, kini harus menghadapi kenyataan sebaliknya. Kekayaan alam yang melimpah ruah di daratan dan lautan, kini dimiliki, dikuasai bahkan dirampok sebesar-besarnya oleh orang yang justru diamanahi untuk mengelolanya.</p>
<p>Memang untuk mencapai sebuah bangsa yang benar-benar merdeka, selalu ada proses panjang yang harus dilalui dengan dipenuhi gejolak dan goncangan. Seperti halnya sebuah sistem, maka selalu akan bergerak ke arah yang lebih baik dan stabil  jika ia digoncangkan oleh sebuah perubahan. Sebuah sistem yang telah mencapai keteraturan, pasti ia telah mengalami ketidakteraturan.</p>
<p>Begitu pula dengan pertumbuhan dan perkembangan sebuah bangsa, pasti mengalami keguncangan melalui sebuah revolusi yang berujung dengan kemerdekaan. Bangsa Indonesia yang dijajah selama hampir tiga setengah abad, mengalami penindasan dan tirani, namun mampu bangkit dan melawan, yang akhirnya bisa mencapai kemerdekaan, walau harus dibayar mahal dengan gugurnya para pahlawan. Oleh karena bangsa ini terus bergerak, maka kemerdekaan yang dikumandangkan pada tanggal 17 Agustus 1945 itu, bukan akhir dari sebuah perjuangan. Bangsa ini akan terus mengalami berbagai dinamika,  pertumbuhan dan guncangan-guncangan dan beberapa kali pula mengalami masa transisinya. Dari orla ke orba, dari orba ke reformasi dan dari reformasi entah ke masa apalagi.</p>
<p>Menurut Jalaluddin Rumi, &#8220;<em>Ketika manusia masih berupa janin, darah adalah makanannya, ketika ia dilepaskan dari darah, susu menjadi makanannya, setelah disapih dari susu, ia mampu memakan-makanan yang keras. Kehidupan kit</em><em>a bergantung pada sapihan</em>&#8220;. Demikian pula bangsa ini. Setelah disapih para penjajah, kita menikmati kemerdekaan. Kemudian kita juga disapih oleh beberapa orde untuk mengembangkan kemerdekaan kearah yang lebih baik lagi, walau harus mengalami keguncangan. Seperti halnya ketika kita berat hati harus menyapih bayi demi berkembang  menjadi anak dan remaja dan semakin dewasa.</p>
<p>Memaknai  kemerdekaan merupakan upaya untuk menggali semangat dari proses perubahan yang senantiasa terjadi. Sikap <em>optimitistik</em> untuk memandang masa depan dengan penuh harapan,harus dikedepankan agar kita tidak menjadi bangsa yang hanya berjalan di tempat. Harapan (<em>optimisme</em>) adalah obor yang terus menyala dan menerangi kehidupan. Orang yang putus harapan (<em>pesimisme</em>), hakekatnya sudah mati sebelum dia mati. Bangsa ini harus senantiasa memiliki harapan, agar mampu mengisi, mempertahankan dan mengembangkan kemerdekaan ini.</p>
<p>Memiliki harapan sembari terus berjuang adalah cerminan dari sikap mensyukuri kemerdekaan sebagai berkah dan rahmat Allah. Jika kita selalu mensyukuri kemerdekaan ini, maka pasti Allah akan melimpahkan anugerah kebaikan (<em>rizqan thayyibah</em>) di sepanjang kehidupan kita, sebagaimana firman-Nya :</p>
<p>“<em>dan ingatlah ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi, kamu takut orang-orang akan menculik (memperdayakannmu) kamu, Maka Allah memb</em><em>eri kamu tempat menetap  (yang aman) dan dijadikan-Nya kamu kuat deng</em><em>an pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezeki dari yang baik-baik  agar kamu bersyukur</em>.”(Qs. Al-Anfal : 26)</p>
<p><em>DIRGAHAYU RI </em><em>KE-66, SEMOGA BANGSAKU INI TAK PERNAH KEHILANGAN KEMERDEKAANNYA !!!</em></p>
<p><em>Wallahu&#8217;alam</em>.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhammadirfani.wordpress.com/463/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhammadirfani.wordpress.com/463/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhammadirfani.wordpress.com/463/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhammadirfani.wordpress.com/463/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhammadirfani.wordpress.com/463/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhammadirfani.wordpress.com/463/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhammadirfani.wordpress.com/463/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhammadirfani.wordpress.com/463/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhammadirfani.wordpress.com/463/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhammadirfani.wordpress.com/463/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhammadirfani.wordpress.com/463/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhammadirfani.wordpress.com/463/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhammadirfani.wordpress.com/463/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhammadirfani.wordpress.com/463/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhammadirfani.wordpress.com&amp;blog=5762265&amp;post=463&amp;subd=muhammadirfani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhammadirfani.wordpress.com/2011/08/16/memaknai-kemerdekaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c91a4fac0914a02f3695287d1cc0ef25?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">abu irfani</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://muhammadirfani.files.wordpress.com/2011/08/naskahproklamasitt.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">NaskahProklamasiTT</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>OMNIPRESENT</title>
		<link>http://muhammadirfani.wordpress.com/2011/08/10/omnipresent/</link>
		<comments>http://muhammadirfani.wordpress.com/2011/08/10/omnipresent/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Aug 2011 02:41:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Usep Supriatna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keislaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhammadirfani.wordpress.com/?p=456</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu keunikan ibadah puasa dibandingkan dengan ibadah-ibadah lainnya adalah pelaksanaannya yang tidak harus menghentikan aktivitas lainnya, sehingga nuansa ibadah menyatu dengan aktivitas kita, setidaknya semenjak terbit fajar hingga terbenam matahari. Selain itu juga, ibadah puasa bersifat pribadi atau personal, bahkan merupakan rahasia antara dirinya dengan Allah. Aspek kerahasiaan ini berkait erat dengan ketulusan dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhammadirfani.wordpress.com&amp;blog=5762265&amp;post=456&amp;subd=muhammadirfani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu keuni<a href="http://muhammadirfani.files.wordpress.com/2011/08/3332.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-461" title="333" src="http://muhammadirfani.files.wordpress.com/2011/08/3332.jpg?w=150&#038;h=114" alt="" width="150" height="114" /></a>kan ibadah puasa dibandingkan dengan ibadah-ibadah lainnya adalah pelaksanaannya yang tidak harus menghentikan aktivitas lainnya, sehingga nuansa ibadah menyatu dengan aktivitas kita, setidaknya semenjak terbit fajar hingga terbenam matahari.</p>
<p><span id="more-456"></span>Selain itu juga, ibadah puasa bersifat pribadi atau personal, bahkan merupakan rahasia antara dirinya dengan Allah. Aspek kerahasiaan ini berkait erat dengan ketulusan dan keikhlasan. Ketika seseorang berpuasa, bisa saja ia membatalkan puasanya itu tanpa diketahui orang lain, sebab hanya dirinya yang tahu selain Allah Yang Maha Tahu. Orang yang berpuasa memiliki keyakinan bahwa Allah selalu menyertai, melihat dan mengawasinya. Dengan demikian, kehadiran Allah dalam seluruh denyut aktifitas yang kita lakukan akan sangat terasa.</p>
<p>Menurut Nurcholish Madjid, puasa benar-benar merupakan latihan dan ujian kesadaran akan adanya Tuhan yang Maha Hadir (<em>omnipresent</em>) dan yang mutlak tidak pernah lengah sedikit pun dalam mengawasi segala tingkah laku hamba-hamba-Nya. Kaum Sufi mengistilahkannya dengan <em>Muraqabah</em>, yaitu sikap yang senantiasa merasa diawasi, dilihat dan diperhatikan oleh Allah SWT.  Allah  berfirman : <em>Dan adalah Allah Maha Mengawasi atas segala sesuatu (QS. Al-Ahzab : 52)</em>.</p>
<p>Kesadaran untuk merasakan kehadiran Allah dalam setiap denyut kehidupan akan melandasi keimanan dan ketakwaan seorang muslim dan akan membimbingnya ke arah tingkah laku yang baik dan terpuji. Ia akan terhindar dari segala penyelewengan dan perbuatan maksiat, karena merasa diawasi olah Allah. Dengan begitu, ia akan tampil sebagai seseorang yang berbudi pekerti luhur.</p>
<p>Sikap <em>muraqabah</em> semakin penting dalam kehidupan dewasa ini. Ketika tersamarnya antara kebenaran dan kebatilan, kita memerlukan kacamata batin dan ketajaman matahati untuk mampu membedakannya, sehingga tidak mudah terpedaya oleh kesenangan-kesenangan yang menjerumuskan, tidak tertipu oleh kamuflase dan fatamorgana dan terhindar dari godaan duniawi yang menyengsarakan.</p>
<p>Jika seseorang memiliki ketajaman matahati maka akan menyikapi kehidupan di dunia ini dengan lebih hati-hati. Ia tidak terburu-buru berbangga diri ketika menerima anugerah kenikmatan duniawi dan tidak berputus asa ketika menghadapi kesulitan hidup. Rasululllah bersabda, ”<em>ِ</em><em>Anehnya urusan orang mukmin, sesungguhnya setiap urusan itu baik baginya. Jika ia diberi kebaikan, maka ia bersyukur, hal itu baik baginya. Dan Jika ia diberi kejelekan, maka ia bersabar dan itu baik pula baginya</em>”.( HR. Muslim).  Imam Ibnu Jauzi menuturkan, &#8220;<em>Ketakwaan dan keimanan akan mempertajam mata hati pelakunya. Apa pun peristiwa yang terjadi di sekitar, ia akan dapat mengambil hikmah dan pelajaran darinya. Panasnya musim kemarau menging</em><em>atkan pada api neraka, gelapnya malam mengingatkan gelap gulitanya alam kubur, hawa sejuk dan indahnya musim semi mengilhami untuk mencari rezeki yang halal</em>.&#8221;</p>
<p>Semoga kita diberi kemampuan oleh Allah untuk bisa menerapkan pelajaran-pelajaran penting yang didapatkan bulan ramadhan ini pada bulan-bulan yang akan datang. <em>Amin</em>.</p>
<p><em>Wallahu’alam wal ’ilmu ’indallah.</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhammadirfani.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhammadirfani.wordpress.com/456/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhammadirfani.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhammadirfani.wordpress.com/456/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhammadirfani.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhammadirfani.wordpress.com/456/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhammadirfani.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhammadirfani.wordpress.com/456/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhammadirfani.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhammadirfani.wordpress.com/456/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhammadirfani.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhammadirfani.wordpress.com/456/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhammadirfani.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhammadirfani.wordpress.com/456/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhammadirfani.wordpress.com&amp;blog=5762265&amp;post=456&amp;subd=muhammadirfani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhammadirfani.wordpress.com/2011/08/10/omnipresent/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c91a4fac0914a02f3695287d1cc0ef25?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">abu irfani</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://muhammadirfani.files.wordpress.com/2011/08/3332.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">333</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
