MENYONGSONG GERHANA BULAN DENGAN TAFAKUR DAN IBADAH SESUAI SUNNAH


Sabtu malam, 10 Desember 2011 kita akan menyaksikan kembali gerhana bulan. Inilah gerhana total, seperti yang terjadi pada 16 Juni lalu,  namun ada perbedaan diantara keduanya.  Gerhana yang terjadi pada Juni yang lalu menampakkan bulan berwarna merah darah, sementara gerhana kali ini menciptakan bulan jauh lebih gelap. Warna merah kehitaman ini terjadi karena bulan berada di bagian terdalam bayangan bumi. Seluruh wilayah Indonesia dapat menyaksikan fenomena alam ini.

Prosesi gerhana dimulai saat bulan memasuki bayangan kabur bumi pada pukul 18.33 WIB. Saat itu bulan baru terbit di ufuk timur ketika cahaya matahari masih berpendar di langit. Pemandangan ini akan menjadi pengalaman mengesankan karena purnama yang terlihat besar di dekat horizon akan dilapisi layar langit kebiruan.

Pada pukul 19.45 WIB,  bulan mulai memasuki bayangan gelap bumi. Selama 80 menit selanjutnya permukaan bulan perlahan ditelan bayangan gelap bumi. Totalitas terjadi mulai pukul 21.06 WIB, ketika seluruh permukaan bulan masuk ke bayangan gelap bumi.

Fase total akan terjadi selama 51 menit dengan puncak gerhana pada pukul 21.32 WIB. Saat totalitas, bulan berada pada ketinggian 60 derajat dari horizon timur.

Setelah bersembunyi di balik bayangan gelap, bulan perlahan menampakkan wujudnya mulai pukul 21.57 WIB. Seluruh permukaan bulan keluar dari bayangan gelap pada pukul 23.18 WIB. Prosesi gerhana berakhir pada Minggu, 11 Desember, pukul 00.30 WIB.

Gerhana bulan total kali ini dipastikan lebih banyak menyedot perhatian masyarakat ketimbang gerhana bulan pada Juni lalu. Alasannya, gerhana kali ini terjadi saat prime time (waktu utama), yaitu dari magrib hingga menjelang tengah malam. Kemungkinan sebagian besar  masyarakat ingin menyaksikan fenomena langka tersebut, baik secara langsung maupun melalui media televisi atau internet. Bahkan Observatorium Bosscha dan Kementerian Komunikasi dan Informatika telah menyiapkan fasilitas live streaming melalui halaman situs http://kominfo.go.id. Tayangan langsung gerhana ini disiarkan dari enam titik pengamatan di seluruh Indonesia, yaitu Lembang, Yogyakarta, Jakarta, Bandung, Pekanbaru, dan Mataram.
Media Tafakur

Bulan adalah benda langit yang dekat dengan bumi. Permukaannya bertabur batu dan terdiri dari hamparan titik-titik kawah yang terbentuk dari hunjaman meteor dan tak terhitung jumlahnya. Garis tengah bulan 2.476 km, volumenya 1/49 isi bumi, periode rotasi 27 lebih 1/3 hari, dan jaraknya ke matahari 284.000 km. Allah berfirman :

“dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah Dia sampai ke manzilah yang terakhir) Kembalilah Dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendahului bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya. (QS. Yasin : 39 – 40).

Peredaran bulan mengelilingi bumi dan keduanya bersama-sama mengelilingi matahari mengindikasikan keteraturan ciptaan-ciptaan Allah yang tunduk pada sunnah-Nya. Pergerakan benda-benda langit itu juga yang mengakibatkan adanya fenomena-fenomena alam. Gerhana bulan merupakan salah satu fenomena tersebut, ketika matahari bumi dan bulan secara berturut-turut berada pada satu garis lurus. Cahaya bulan yang merupakan pantulan sinar matahari, tidak nampak karena terhalang oleh bumi. Peristiwa tersebut terjadi hanya sesekali dalam kurun waktu tertentu, seperti yang terjadi pada tanggal 10 Desember 2011 ini.

Pergantian malam dan siang, juga merupakan indikasi dari adanya peredaran bulan, bumi dan matahari yang harus menjadi objek perhatian manusia. Allah berfirman :

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” (QS. Ali Imran : 190).

Gerhana bulan yang terjadi kali ini tepat berada di penghujung tahun 2011 masehi dan permulaan tahun 1433 hijriyah. Hal ini merupakan momentum bagi kita untuk mentafakuri kebesaran Allah dan kesempatan pula untuk menata kehidupan kita. Allah tidak pernah sia-sia untuk menciptakan ini semua, karena semuanya akan mendatangkan hikmah bagi mereka yang memanfaatkan potensi akalnya, sebagai anugerah terbesar dari-Nya.

“Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur” (QS. Al-Furqan : 62).

Berdasarkan ayat tersebut, pergantian malam dan siang harus kita gunakan untuk mengambil pelajaran (dzikir) dan memanfaatnya untuk berbuat kebaikan (syukur). Harus ada kesadaran untuk membaca ulang peristiwa-peristiwa atau kejadian-kejadian yang telah kita lalui dimasa lalu, agar dapat menganalisa prestasi-prestasi ataupun kesia-siaan apa yang pernah kita alami dan kita torehkan selama tahun yang telah kita jalani.

Pergantian malam dan siang berkaitan erat dengan waktu yang telah diberikan Allah. Waktu memiliki makna yang amat penting namun sering sekali kita lupakan. Dalam pandangan Islam, waktu bersifat linier (lurus), artinya ia selalu bergerak ke depan dan tidak pernah berbalik ataupun berputar ke masa yang silam. Waktu adalah makhluk Allah yang selalu tercipta baru. Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda, “Tidak terbit fajar suatu hari, kecuali dia berseru, “Wahai putra-putri Adam, aku waktu, aku ciptaan baru, yang menjadi saksi usahamu. Gunakan aku karena aku tidak akan kembali lagi sampai hari kiamat.

Seorang ulama/penyair berkata, ”Waktu adalah sungai yang mengalir ke seluruh penjuru sejak dahulu kala, melintasi pulau, kota, dan desa, membangkitkan semangat atau meninabobokan manusia. Ia diam seribu bahasa, sampai-sampai manusia sering tidak menyadari kehadiran waktu dan melupakan nilainya, walaupun segala sesuatu, selain Tuhan, tidak akan mampu melepaskan diri darinya.”

Untuk itulah,maka kejadian gerhana ini juga harus dijadikan momentum untuk mengingatkan kita pada masa (waktu) yang sedang kita jalani, sehingga tidak pernah berlalu-sia-sia.

Anjuran Nabi

Nabi Muhammad SAW, sudah jauh-jauh hari mengaitkan terjadinya gerhana, baik matahari maupun bulan, dengan tanda kebesaran Allah, sebagaimana sabdanya dalam hadits berikut :

”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat gerhana tersebut, maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari)

Ada anjuran yang sangat kuat (sunnah muakkadah) yang disampaikan beliau ketika terjadinya gerhana, yaitu dengan melaksanakan shalat sunnah gerhana, memperbanyak dzikir (tafakkur), berdo’a, bertakbir dan sedekah. Dalam hadits yang lain, beliau bersabda :

Jika kalian melihat kedua gerhana yaitu gerhana matahari dan bulan, bersegeralah menunaikan shalat.” (HR. Bukhari)

Untuk itulah, disamping kita menyaksikan momen-momen gerhana yang terjadi hampir 6 jam ini, itupun kalau langit cukup cerah untuk menyaksikannya dengan mata telanjang, maka sempatkanlah beberapa saat untuk melakukan apa yang disunnahkan oleh Nabi SAW, agar peristiwa ini mendatangkan hikmah bagi kita dan menjadi momentum untuk meningkatkan ketakwaan kepada-Nya. Wallahu ‘alam.

Explore posts in the same categories: Keislaman

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.