ANTARA ‘IDUL FITRI DAN ‘IDUL KIBRI


Ramadhan, momen tahunan yang diharapkan bisa memperbaiki banyak hal dalam hidup ini, telah meninggalkan kita. Banyak hal yang bisa kita dapatkan selama sebulan penuh itu, untuk diimplementasi pada bulan-bulan yang akan kita jelang. Sejatinya, jika kita telah memaksimalkan bulan ramadhan dengan beraneka ibadah sesuai tuntunan sunnah, maka diyakini akan mampu mengubah cara pandang kita terhadap hakekat kehidupan kita di dunia ini.

Ibadah puasa yang telah kita jalani selama satu bulan, merupakan salah satu bentuk tarbiyah bagi jiwa manusia agar bisa memiliki sikap pengendalian diri dari gelegak hawa nafsu yang sering melacurkan manusia pada lembah yang penuh nista dan kehancuran. Puasa akan  mampu mengantarkan manusia pada kebebasan dari belenggu kebiasaan-kebiasaan buruk yang menghambat proses pencapaian derajat ahsanu takwin (sebaik-baik penciptaan), bahkan alih-alih manusia meluncur pada derajat asfala safilin (serendah-rendahnya penciptaan).

Idul Fitri yang menandai berakhirnya bulan ramadhan, sejatinya juga  merupakan tonggak untuk memproklamirkan kemenangan sejati. Kemenangan sejati bukanlah kemenangan atas orang lain. Kemenangan sejati adalah kemenangan atas nafsu diri sendiri, sehingga tidak lagi dijajah oleh keinginan syahwat yang sering menjerumuskan manusia pada lembah kehinaan. Jadi, idul fitri bukan merupakan gerbang untuk memasuki alam kebebasan dan serba boleh serta membiarkan syahwat kembali menjadi liar, karena menganggap telah dikebiri selama ibadah puasa. Hawa nafsu  yang telah dikendalikan akan memudahkan manusia menuju derajat ahsanu takwim.

Oleh karena itulah, Hari Raya Idul fitri  harus dijadikan ujian pertama untuk mengukur keberhasilan puasa. Berbagai macam godaan hedonisme dan konsumerisme bertopengkan keperluan idul fitri seringkali menguji kegiatan olah spiritual kita setelah kita berpuasa. Hanya kita sering  tidak sadar bahwa itu merupakan jerat setan yang hendak melunturkan pencapaian tujuan ibadah di bulan Ramadan. Tidak sedikit yang menganggap bahwa idul fitri adalah perayaan kemenangan mengalahkan nafsu setelah berpuasa, sehingga pada hari raya idul fitri kesempatan untuk memproklamirkan kebebasan dan serba boleh. Bahkan tak sedikit hari raya Idul Fitri dijadikan arena pamer dan kesombongan. Sehingga Idul Fitri seolah-olah diidentikkan dengan Idul Kibri  (hari raya kesombongan).

Idul Fitri menjadi momentum yang paling tepat untuk ber-tafakur (introspeksi) atas kekurangan-kekurangan ibadah kita selama ini, kita tidak pernah tahu dan yakin apakah di tahun depan kita bisa kembali menjadi tamu Allah di bulan Ramadhan.  Idul Fitri nanti adalah proklamasi bagi peningkatan ketaatan dan ketakwaan kita. Idul Fitri tidak identik dengan pakaian yang serba baru, pepatah Arab mengatakan , “Laisa al-‘id li man labisa al-jadid, wa lakin al-‘id li man tha’atika al-tajid (Bukanlah hari raya ‘Id bagi orang yang pakaiannya baru, tapi hari raya ‘Id adalah bagi orang yang ketaatannya bertambah).

SELAMAT MERAYAKAN IDUL FITRI

TAQABBALALLAHU MINNA WAMINKUM

KULLU AMIN ANTUM BIKHAIR

SEMOGA MENDAPAT KEMENANGAN SEJATI

Explore posts in the same categories: Keislaman

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.