MEMBERI MAKNA TRANSENDEN BAGI PERJALANAN MUDIK


 Keunggulan manusia dari makhluk lainnya terletak pada kemampuannya untuk memberi makna dan menetapkan tujuan dari kehidupannya. Memberi makna hidup adalah proses pembentukan kualitas hidup, sedangkan tujuan hidup menunjukkan arah, rujukan, dasar pijakan dan sekaligus hasil yang ingin diraih.

Manusia, akan mencapai kesempurnaannya spriritualnya apabila mampu memberikan makna dan menetapkan tujuan terhadap hidup yang dijalaninya. Jika tidak, manusia takkan pernah bisa menyempurnakan kemanusiaannya. Ia hanyalah robot berdaging yang hidup di bumi dengan segala aktivitas yang bernilai relatif dan dijalankannya hari demi hari, sekedar menunggu waktu saat kematiannya.

Upaya untuk memberi makna dan menetapkan tujuan hidupnya bisa tercapai apabila manusia mengarahkan perhatiannya pada prinsip-prinsip primordialnya, yaitu memiliki semangat untuk “pulang kembali” pada awal dari keberadaannya. Allah Swt selalu mengingatkkan pada kita bahwa manusia harus mempunyai misi dan kesadaran bahwa ia berada dalam sebuah perjalanan atau perantauan yang pasti kan tiba pada titik permulaannya, yaitu pangkuan Allah Swt. Dia berfirman, “Wahai manusia, sesungguhnya engkau bersusah payah menuju Tuhanmu, maka pasti engkau akan menemui-Nya” (QS. Al-Insyiqaq : 5).

Firman Allah diatas memberi isyarat pada kita bahwa setiap manusia itu harus mempunyai misi dan kesadaran bahwa dirinya sedang berada dalam sebuah perjalanan atau perantauan yang pasti akan kembali ke tempat ia mulai perjalanan, sebagaimana seseorang yang sedang ditimpa musibah, selalu berkata, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, sesungguhnya kita berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya”.

Kembali kepada Allah berarti kembali ke tempat asal, kampung halaman tempat beristirahat dan menikmati seluruh jerih payah yang diusahakannya Selama di perantauan, semangat untuk pulang kembali, adalah kerinduan untuk bertemu dan melihat wajah kekasihnya dengan hati yang tulus, total dan pasrah. Orang yang dilanda kerinduan dan cinta yang bergelora di relung kalbunya, dipastikan akan selalu gelisah jika kerinduannya tidak ditumpahkan ketika perjumpaan dengan kekasihnya.

Analogi untuk menggambarkan betapa besarnya kerinduan untuk kembali kepada kampung halaman, tempat ia berasal, bisa kita saksikan beberapa saat lagi, ketika menjelang Hari Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri, yaitu tradisi mudik. Mudik adalah salah satu cara untuk mengunjungi kampung halaman dan bersilaturrahmi kepada orang tua, saudara, teman, guru, serta handai taulan. Mudik merupakan pemandangan tahunan yang memberi nuansa lain di penghujung bulan Ramadhan.

Berjejal-jejalan di stasiun kereta, di terminal bis dan bermacet-macetan dijalan raya, tidak membuat para pemudik kapok dan tidak melakukannya ditahun berikutnya. Malah  yang terjadi justru sebaliknya, setiap tahun adanya peningkatan jumlah pemudik. Bagi mereka siksaan seperti itu adalah bagian dari kebahagiaan itu sendiri, sebagai resiko karena ingin meraih kebahagiaan sebenarnya tatkala bisa sampai di kampung halaman, tempat kelahirannya.

Bagi mereka, hari raya adalah kemewahan dan pencurahan kebahagiaan  yang tidak mereka dapatkan sehari-hari. Boleh saja orang bilang bahwa itu adalah akibat urbanisasi atau modernisasi yang timpang antara desa dan kota. Tetapi itulah biaya dari berputarnya terus roda kehidupan yang tidak bisa dihentikan. Yang pasti siksaan yang diakibatkan oleh perjalanan mudik yang melelahkan itu adalah sejenis kebahagiaan yang harus diteguk agar keinginan untuk mengobati kerinduan kepada kampung  halamannya bisa diraih.

Tradisi mudik lebaran yang merupakan momen pertemuan antara  nilai keislaman dengan budaya bangsa itu sejatinya harus memberi  makna dan pesan moral bagi proses penguatan kesadaran kemanusiaan kita dan semakin mengukuhkan rasa primordialitas, bahwa kerinduan pada kampung kelahiran tidak bisa dilepaskan dalam diri manusia. Jika ditarik lebih jauh lagi, maka kita akan menemukan hakikat primordialisme itu sebagai fitrah (naluri) kemanusiaan. Bahwa manusia, meminjam istilah Jalaluddin Rumi, adalah seruling bambu yang tercerabut dari rumpunnya. Lengkingan pilu suara seruling itu adalah jeritan rindu manusia untuk kembali kepada “rumpun sejatinya”.

Manusia, sejatinya tidak akan pernah melupakan tempat dimana asal-muasalnya berada. Nurani yang ada dalam diri manusia akan selalu mengingatkan bahwa di dunia ini bukanlah tempat tinggal sejatinya. Nurani akan selalu menyadarkan kita bahwa asal kita adalah di “tempat luhur’ yang penuh keabadiaan, bukan di alam rendah ini yang penuh kepalsuan. Namun, agar kita layak untuk kembali berada di tempat yang luhur maka kesucian diri harus dikembalikan (‘Idul Fithri) melalui laku dan perbuatan yang dijiwai nilai keimanan dan amal shaleh.

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi : 110)

Wallahu’alam

Explore posts in the same categories: Keislaman

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.