PUASA, LATIHAN MENUNDA KESENANGAN


Salah satu hal yang paling penting dari sebuah ajaran agama adalah sejauhmana ajaran itu mampu diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Ajaran agama bukan semata-mata dogma yang turun dari langit kemudian tetap mengawang-awang, tidak membumi menjadi sebauh amalan.

Menurut para ahli, puasa merupakan sebuah bentuk ajaran yang paling mula-mula dan paling tersebar luas di kalangan umat manusia. Hampir semua agama memiliki ritual puasa sebagai salah satu cara untuk mendekatkan diri lebih erat dengan Tuhannya, melalui pengingkaran terhadap kebutuhan jasmani, seperti makan dan minum serta kebutuhan biologis. Meski caranya yang berbeda-beda namun memiliki tujuan yang sama untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Menurut Nurcholish Madjid, puasa merupakan mata rantai yang menunjukkan segi kesinambungan atau kontinuitas agama-agama.

Di dalam ajaran Islam, puasa (Ash-Shiyam) merupakan salah satu ibadah yang bisa mengantarkan seorang muslim pada kebahagiaan yang hakiki. Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah berfirman, ”Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan, ketika berbuka puasa, ia bahagia dengan buka puasanya dan ketika ia berjumpa dengan Tuhannya, ia bahagia membawa pahala puasanya”.

Rahasia kebahagiaan yang dirasakan oleh orang yang berpuasa pada dasarnya karena ia berhasil menunda kesenangan dalam jangka waktu tertentu. Bukankah pemenuhan kebutuhan terhadap makan, minum dan kubutuhan biologis merupakan kebutuhan yang sangat primer dipenuhi oleh manusia ? Namun, ketika ia berpuasa, kebutuhan terhadap itu semua harus ditunda dalam waktu tertentu. Oleh karena itu, orang yang berpuasa merasakan kenikmatan dan kebahagiaan yang luar biasa (dibanding dengan orang yang tidak berpuasa), ketika ia mendengar adzan maghrib untuk berbuka puasa. Kebahagiaan yang lebih hakiki lagi adalah ketika di akhirat kelak, saat ia berjumpa dengan Tuhannya sambil membawa pahala puasanya.

Prinsip menunda kesenangan merupakan prinsip kesabaran yang dimiliki oleh seorang muslim. Dalam kehidupan modern pun, menunda kesenangan menjadi prinsip hidup yang dianut oleh kebanyakan manusia. Orang yang terbiasa menabung, misalnya, adalah salah satu upaya untuk menunda kesenangan. Kebiasaan ini akan memberikan manfaat bagi yang melakukannya. Jika uang kita tidak dihabiskan sekaligus, namun ditabung untuk masa depan, manfaatnya akan dirasakan kemudian. Hal ini juga merupakan bagian dari prinsip hidup orang yang mampu berpandangan atau berorientasi ke depan (future oriented). Orang yang selalu berfikiran ke depan adalah orang yang tidak tertawan oleh kekinian dan kedisinian. Sehingga hidupnya selalu maju selangkah dari hari ini.

Prinsip hidup yang berpandangan jauh ke depan juga merupakan prinsip hidup orang yang bertaqwa. Allah Swt berfirman dalam QS. Al-Hasyr [59] : 18, ”Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) Dan bertaqwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan”.

Orang yang bertaqwa tidak pernah terpesona apalagi tertipu oleh kehidupan sesaat (dunia) yang penuh fatamorgana. Ia selalu mengutamakan dunia ini untuk sebanyak-banyaknya mengumpulkan bekal untuk kehidupan akhirat nanti yang abadi. Ia selalu menggunakan setiap kesempatan yang ada, sebelum berubah menjadi penyesalan. Nabi saw pun bersabda, ”Pergunakanlah lima kesempatan sebelum datang lima kesempatan yang lain, masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa fakirmu, masa hidupmu sebelum kematianmu, dan masa senggangmu sebelum masa sibukmu”. (HR. Hakim dan Baihaqi dari Ibnu Abbas).

Kebahagiaan bukanlah bersifat materil. Harta kekayaan di dunia, tidak bisa menjamin secara mutlak mendatangkan kebahagiaan. Memang manusia memerlukan makan, minum, pakaian dan kebutuhan lahiriah lainnya, tetapi kebahagiaan yang hakiki tidak terletak pada hal-hal yang bersifat materi. Kebahagiaan yang sejati dan hakiki hanya dapat dirasakan oleh hati dan dilahirkan oleh sikap yang mampu melaksanakan kewajiban dari Allah Swt.  Ali bin Abi Thalib r.a. pernah berkata, ”Tidak ada kebahagiaan yang paling besar yang pernah dirasakan oleh seorang mukmin daripada dapat menunaikan segala kewajiban dengan sempurna”. Wallahu’alam.

About these ads
Explore posts in the same categories: Keislaman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: