MEMAKNAI (PERAYAAN) KEMERDEKAAN


Gegap gempita perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Rakyat Indonesia yang ke-64, hampir mewarnai seluruh tempat di pelosok tanah air. Berbagai kegiatan yang sangat kreatif disuguhkan sebagai upaya memaknai hari yang bersejarah itu. Di kota-kota dan di kampung-kampung, masyarakat memenuhi balaikota atau alun-alun untuk menyaksikan kegiatan upacara peringatan detik-detik proklamasi yang dilanjutkan pawai jampa dengan iring-iringan musik-musik tradisional sampai modern. Riuh-rendah anak-anak sampai orang dewasa, tak ketinggalan para pedagang, hanyut dalam kegembiraan yang menjadi pemandangan rutin di bulan Agustus ini.

Aroma kebangsaan dan semangat nasionalisme yang diekspresikan melalui berbagai kegiatan, merupakan sebuah euphoria yang kerap muncul dari anak bangsa ini setiap memasuki bulan Agustus. Bahkan jauh-jauh hari sebelum tanggal 17 agustus, pernak-pernik ‘agustusan’ sudah menghiasi di berbagai tempat. Umbul-umbul, baliho, spanduk, gapura dan tak ketinggalan bendera-bendera mulai ukuran kecil sampai besar, terpasang dipinggiran jalan, menjadi pemandangan yang amat menarik. Tak ketinggalan kegiatan perlombaan, mulai dari tarik tambang, balap karung sampai panjat pinang, menjadi kegiatan yang sangat dinantikan baik oleh anak-anak sampai orang dewasa. Inilah bentuk euphoria, yang seringkali digugat oleh sebagian kalangan, sebagai kegiatan yang sama kali tak ada kaitannya dengan kemerdekaan itu sendiri. Tentu saja, pemaknaan terhadap setiap perilaku dan akan kembali kepada para pelakunya.

Ketika kita sedang membicarakan kemerdekaan, tema pembicaraan itu tidak bisa dilepaskan dari peran seorang pahlawan. Kemerdekaan tentu tidak begitu saja diraih oleh rakyat Indoensia tanpa pengorbanan para pahlawan Menurut Anis Matta, “Pekerjaan-pekerjaan besar dalam sejarah hanya dapat diselesaikan oleh mereka yang mempunyai naluri kepahlawanan”. Sejarah mengabarkan kepada kita bahwa negeri ini mendapat anugerah kemerdekaan dan terbebas dari penindasan kaum penjajahan dikarenakan darah para pahlawan yang dicurahkan demi bangsa tercinta ini. Patriotisme yang muncul dari para pahlawan dalam berjuang membebaskan negeri ini dari cengkeraman para penjajah merupakan sikap yang dilatarbelakangi oleh nilai-nilai keberanian, kesabaran, pengorbanan dan optimisme. Para Pahlawan mengedepankan sikap-sikap luhur tersebut dan mampu mengenyampingkan sikap egoisme, rasa takut dan pesimistis.

Sebuah bangsa yang merdeka, merupakan bangsa yang telah melalui proses panjang yang dipenuhi dengan gejolak dan goncangan. Kalau dianalogikan sebagai sebuah sistem, maka sistem itu senantiasa akan bergerak ke arah yang lebih baik jika ia digoncangkan oleh perubahan. Sebuah Sistem, sebelum mencapai keteraturan yang baru, harus mengalami ketidakteraturan.

Dalam berbagai situasi, yang membantu proses pertumbuhan bukan lagi keseimbangan, melainkan ketimpangan., bukan ekuilibrium tetapi disekuilibrium. Equilibrium adalah kematian, sedangkan disekuilibrium adalah kehidupan. Jadi, kegoncangan atau ketidakseimbangan merupakan jalan mencapai keseimbangan.

Begitu pula dengan pertumbuhan dan perkembangan sebuah bangsa, pasti mengalami keguncangan melalui sebuah revolusi yang berujung dengan kemerdekaan. Bangsa Indonesia yang dijajah selama hampir tiga setengah abad, mengalami penindasan dan tirani, namun mampu bangkit dan melawan, yang akhirnya bisa mencapai kemerdekaan, walau harus dibayar mahal dengan gugurnya para pahlawan. Namun, kemerdekaan yang dikumandangkan pada tanggal 17 Agustus 1945, bukan akhir dari sebuah perjuangan. Bangsa ini telah dan akan mengalami berbagai dinamika dan pertumbuhan, sehingga beberapa kali mengalami guncangan-guncangan dan beberapa kali pula mengalami masa transisinya. Dari orla ke orba, dari orba ke reformasi dan dari reformasi entah ke masa apalagi.
Menurut Jalaluddin Rumi, “Ketika manusia masih berupa janin, darah adalah makanannya, ketika ia dilepaskan dari darah, susu menjadi makanannya, setelah disapih dari susu, ia mampu memakan makanan yang keras. Kehiduapn kita bergantung pada sapihan”. Demikian pula bangsa ini. Setelah disapih para penjajah, kita menikmati kemerdekaan. Kemudian kita juga disapih oleh beberapa orde untuk mengembangkan kemerdekaan kearah yang lebih baik lagi, walau harus mengalami keguncangan. Seperti halnya ketika kita berat hati harus menyapih bayi demi berkembang menjadi anak dan remaja dan semakin dewasa.

Memaknai (perayaan) kemerdekaan merupakan upaya untuk menggali semangat dari proses perubahan yang senantiasa terjadi. Sikap optimitistik untuk memandang masa depan dengan penuh harapan, harus dikedepankan agar kita tidak menjadi bangsa yang berjalan di tempat. Ada sebuah kisah yang menarik untuk direnungkan tentang 4 (empat) buah lilin.

Ada 4 (empat) lilin yang menyala, sedikit demi sedikit meleleh. Suasana begitu sunyi, sehingga terdengar percakapan mereka. Lilin yang pertama berkata,” Aku adalah Damai, namun manusia tak mau menjagaku, maka lebih baik aku mematikan diriku saja”. Maka lilin pertama padam.

Lilin yang ke dua berkata,”Aku adalah Iman. Tapi, manusia tak membutuhkanku. Untuk itulah tak ada gunanya aku menyala”. Maka lilin ke dua pun padam.
Dengan sedih lilin yang ketiga berbicara,”Aku adalah Cinta tapi aku juga tidak ada gunanya untuk terus menyala, karena manusia tak memperdulikan aku lagi”. Akhirnya lilin yang ke tiga pun padam.

Tak terduga seorang anak masuk dalam kamar dan melihat ketiga lilin itu telah padam. Ia mengangis karena merasa takut. Lalu lilin yang ke empat berkata,”Jangan takut dan jangan menangis Nak ! selama aku masih ada dan menyala, kita dapat menyalakan ketiga lilin yang padam tadi, karena aku adalah HARAPAN”. Dengan gembira anak itu akhirnya menyalakan kembali lilin Damai, Iman dan Cinta oleh lilin Harapan.

Jadi, yang tak boleh mati adalah Harapan (optimisme), sebab orang yang putus harapan, sudah mati sebelum dia mati. Bangsa ini harus senantiasa memiliki harapan, agar mampu mengisi, mempertahankan dan mengembangkan kemerdekaan ini. Wallahu’alam.
rebutan

Explore posts in the same categories: Pendidikan

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: