MENYIKAPI GERHANA MATAHARI SESUAI SYARIAT ISLAM


gerhana-matahari1“Apakah kamu tidak memperhatikan penciptaan Tuhanmu bagaimana Dia memanjangkan dan (memendekkan bayang-bayang) dan kalau Dia menghendaki niscaya Dia jadikan tetap bayang-bayang itu. Kemudian Kami jadikan matahari sebagai penunjuk atas bayang-bayang itu. Kemudian Kami menarik bayang-bayang itu kepada Kami dengan tarikan yang perlahan-lahan.” (QS. Al-Furqaan : 45-46)

Dalam rentang waktu dua tahun berturut-turut, yakni 2009-2010, kita akan menyaksikan salah satu dari kekuasaan Allah di alam semesta ini yaitu Gerhana Matahari. Walaupun tidak semua bagian di wilayah Indonesia dapat melihat fenomena ini. Karena, gerhana yang terjadi sekarang ini adalah Gerhana Matahari Cincin (GMC) dan hanya melewati bagian barat dan/atau utara indonesia.

Pada tahun 2009 ini tercatat ada dua gerhana yang akan melewati Indonesia, yaitu pada tanggal 26 Januari dan 22 Juli , sementara itu pada tahun 2010 gerhana matahari kembali datang pada tanggal 15 Januari. Menurut catatan para pakar astronomi, kita kembali dapat menyaksikan gerhana yang sama pada tahun 2016.

Yang perlu diperhatikan  adalah jenis gerhana ini merupakan gerhana matahari anular (bukan total) artinya ukuran bulan tidak cukup besar untuk menutupi seluruh priringan matahari berbeda dengan gerhana matahari total dimana bulan menutupi seluruh piringan matahari. Jadi, untuk melihatnya, perlu digunakan lensa pelindung mata, serta bagi fotografer, ingat untuk melindungi lensa kameranya sebelum mengabadikan fenomena langka ini.

Bagaimana Islam menghadapi fenomena semacam ini? Tentu saja, Nabi kita telah menuntun ummatnya dalam menyikapi kebesaran Allah ini dengan beberapa tuntunan, agar ummatnya semakin dekat dan memiliki kesadaran akan kebesaran Allah SWT.

Mitos-mitos Keliru Seputar Gerhana

Kejadian gerhana matahari maupun bulan telah sering dialami oleh manusia sejak jaman dahulu kala. Tentu saja, sejalan dengan perkembangan intelektual dan ilmu pengetahuan yng dimiliki manusia, menyikapi terjadinya gerhana pun beragam.

Pada jaman dahulu, karena keterbatasan intelektual dan ilmu pengetahuan dan sejalan dengan keyakinan primitif manusia yang mengkaitkan setiap gejala alam dengan kekuatan-kekuatan supranatural, mitos-mitos dan keyakinan khurofat seputar gerhana pun muncul, yang tentu saja dengan timbangan syariat dan keyakinan agama hal ini bertentangan dengan aqidah yang benar.

Di antara mitos-mitos yang muncul pada jaman dahulu, bahkan sebagian masih ada yang mempercayainya hingga sekarang ini, terjadinya gerhana itu karena adanya sesosok raksasa besar (batarakala) yang sedang berupaya menelan matahari. Nah, agar raksasa itu memuntahkan kembali matahari yang ditelannya, maka diperintahkan untuk menabuh berbagai alat, seperti kentongan, bedug, bambu atau bunyi-bunyian lainnya.

Ada juga yang meyakini bahwa matahari itu beredar seperti dibawa oleh sebuah gerobak besar. Gerhana itu terjadi karena gerobak tersebut memasuki sebuah terowongan dan kemudiankeluar lagi.

Sebagian juga meyakini bahwa bulan dan matahari adalah sepasang kekasih, sehingga apabila mereka berdekatan maka akan saling memadu kasih sehingga timbullah gerhana sebagai bentuk percintaan mereka.
Bahkan, masih ada hingga kini yang meyakini bahwa bagi wanita yang sedang hamil diharuskan bersembunyi di bawah tempat tidur atau bangku, agar bayi yang dilahirkannya nanti tidak cacat (wajahnya hitam sebelah).

Dalam catatan sejarah Islam, orang-orang arab Quraisy mengaitkan peristiwa gerhana dengan kejadian-kejadian tertentu, seperti adanya kematian atau kelahiran, dan kepercayaan ini dipercaya secara turun temurun sehingga menjadi keyakinan umum masyarakat. Dijaman Rasulullah, misalnya, pernah terjadi gerhana matahari yang bersamaan dengan kematian putra Rasul SAW yang bernama Ibrahim. Orang-orang pada saat itu menganggap terjadinya gerhana karena kematian putra Nabi tersebut. Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun membantah keyakinan orang Arab tadi, seraya bersabda:

Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat gerhana tersebut, maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari no. 1044)

Hadits tersebut diatas sekaligus menjadi tuntunan bagi kita bagaimana menyikapi terjadinya Gerhana Matahari atau Bulan, yang nanti akan diuraiakan secara rinci.

Apa yang Dimaksud Dengan Gerhana Matahari?

Terjadinya gerhana matahari karena bulan berada di antara matahari dan bumi. Jadi, bulan ketika itu menghalangi sinar matahari yang akan sampai ke bumi. Yang dimaksud dengan Gerhana Matahari Cincin (GMC) adalah gerhana matahari yang terjadi karena bagian bola Matahari yang tampak dari Bumi tidak seluruhnya tertutup oleh bayang-bayang Bulan. Bagian yang terlihat oleh kita di Bumi hanya sebagin kecil, seperti cincin. Bentuk cincin ini dari sebagian cahaya matahari. Sketsa terjadinya Gerhana Matahari kurang lebih sebagai berikut:

Gerhana

Sumber gambar : http://image.google.co.id

Menurut perhitungan para ahli astronomi, terjadinya gerhana matahari dimulai pada pukul 11.56 WIB dan berakhir pada pukul 18.01 WIB. Terjadinya gerhana matahari cincin dimulai pada pukul 13.03 sampai dengan pukul 16.55.

Tuntunan Syariat Islam Mengenai Terjadi Gerhana.

Kejadian gerhana, baik bulan maupun matahari, memang merupakan kejadian yang langka. Bisa jadi dalam rentang waktu bertahun-tahun, tapi mungkin juga dalam satu tahun yang sama, seperti yang terjadi pada tahun 2009 ini.

Karena kejadian yang langka ini, maka sebagiaan besar orang ingin menyaksikan fenomena itu dengan berbagai cara. Ada yang mengamati dengan menggunakan camera foto tertentu, kertas/plastik film atau ada juga yang menggunakan air sebagai cerminnya. Memang, melihat langsung kejadian itu tanpa alat yang dapat melindungi mata, berisiko kebutaan.

Bagi para ahli astronomi, pengamatan terjadinya gerhana biasanya menggunakan teropong dan dilakukan di pusat astronomi, seperti di Boscha Lembang. Mereka juga dapat menyiarkan langsung melalui media televisi kejadian tersebut ke seluruh tempat di dunia. Jadi, kita tidak perlu repot-repot untuk menyaksikan langsung. Melalui berita-berita pada sore atau malam hari, tayangan itu akan kita dapatkan kembali.

Islam sebagai ajaran yang lengkap tak luput juga menuntun kita untuk menyikapi kejadian itu dengan tuntuan syariat yang akan lebih meningkatkan ketauhidan dan aqidah islamiyah.

Pakar bahasa Arab, memberi istilah berbeda pada gerhana matahari dan bulan. Gerhana matahari mereka namakan dengan kusuf adalah artinya terhalangnya cahaya matahari atau berkurangnya cahaya matahari disebabkan bulan yang terletak di antara matahari dan bumi. Sedangkan khusuf sebutan untuk gerhana bulan.

Namun, ada pula yang berpendapat bahwa jika kusuf dan khusuf tidak disebut berbarengan, maka itu bermakna satu yaitu gerhana matahari atau gerhana bulan. Namun kalau kusuf dan khusuf disebut berbarengan, maka kusuf bermakna gerhana matahari, sedangkan khusuf bermakna gerhana bulan.

Dalam beberapa hadits, kadang menggunakan kata khusuf, namun yang dimaksudkan adalah gerhana matahari atau gerhana bulan karena khusuf pada saat itu disebutkan tidak berbarengan dengan kusuf.

Apa hukum Shalat Gerhana?
Mayoritas ulama berpendapat bahwa hukum shalat gerhana matahari adalah sunnah mu’akkad (sunnah yang sangat ditekankan). Namun, menurut Imam Abu Hanifah, shalat gerhana dihukumi wajib. Imam Malik sendiri menyamakan shalat gerhana dengan shalat Jum’at. Kalau kita timbang-timbang, ternyata para ulama yang menilai wajib memiliki dalil yang kuat. Karena dari hadits-hadits yang menceritakan mengenai shalat gerhana mengandung kata perintah (jika kalian melihat gerhana tersebut, shalatlah: kalimat ini mengandung perintah). Mereka berpendapat bahwa menurut kaedah ushul fiqih, hukum asal perintah adalah wajib. Pendapat yang menyatakan wajib inilah yang dipilih oleh Asy Syaukani, Shodiq Khoon, dan Syaikh Al Albani rahimahumullah. Dalilnya adalah:

Jika kalian melihat kedua gerhana yaitu gerhana matahari dan bulan, bersegeralah menunaikan shalat.” (HR. Bukhari no. 1047)

Terlepas dari beragam pendapat tentang hokum shalat gerhana, namun sebaiknya kita menunaikannya sebagai bentuk ketaatan pada Rasulullah.

Waktu Pelaksanaan Shalat Gerhana
Waktu pelaksanaan shalat gerhana adalah mulai ketika gerhana muncul sampai gerhana tersebut hilang.

Dari Al Mughiroh bin Syu’bah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Kedua gerhana tersebut tidak terjadi karena kematian atau lahirnya seseorang. Jika kalian melihat keduanya, berdo’alah pada Allah, lalu shalatlah hingga gerhana tersebut hilang (berakhir).” (HR. Bukhari no. 1060 dan Muslim no. 904)

Shalat gerhana juga boleh dilakukan pada waktu terlarang untuk shalat. Jadi, jika gerhana muncul setelah Ashar, padahal waktu tersebut adalah waktu terlarang untuk shalat, maka shalat gerhana tetap boleh dilaksanakan. Dalilnya adalah:
“Jika kalian melihat kedua gerhana matahari dan bulan, bersegeralah menunaikan shalat.” (HR. Bukhari no. 1047).

Dalam hadits ini tidak dibatasi waktunya. Kapan saja melihat gerhana termasuk waktu terlarang untuk shalat, maka shalat gerhana tersebut tetap dilaksanakan.

Hal-Hal yang Dianjurkan Ketika Terjadi Gerhana

Pertama: perbanyaklah dzikir, istighfar, takbir, sedekah dan bentuk ketaatan lainnya.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari no. 1044)

Kedua : keluar mengerjakan shalat gerhana secara berjama’ah di masjid.
Salah satu dalil yang menunjukkan hal ini sebagaimana dalam hadits dari ‘Aisyah : bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengendari kendaraan di pagi hari lalu terjadilah gerhana. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati kamar istrinya (yang dekat dengan masjid), lalu beliau berdiri dan menunaikan shalat. (HR. Bukhari no. 1050). Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi tempat shalatnya (yaitu masjidnya) yang biasa dia shalat di situ. (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, 1/343)

Ibnu Hajar mengatakan, “Yang sesuai dengan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mengerjakan shalat gerhana di masjid. Seandainya tidak demikian, tentu shalat tersebut lebih tepat dilaksanakan di tanah lapang agar nanti lebih mudah melihat berakhirnya gerhana.” (Fathul Bari, 4/10)

Lalu apakah mengerjakan dengan jama’ah merupakan syarat shalat gerhana? Perhatikan penjelasan menarik berikut.
Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin mengatakan, “Shalat gerhana secara jama’ah bukanlah syarat. Jika seseorang berada di rumah, dia juga boleh melaksanakan shalat gerhana di rumah. Dalil dari hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Jika kalian melihat gerhana tersebut, maka shalatlah.” (HR. Bukhari no. 1043)

Dalam hadits ini, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan, “(Jika kalian melihatnya), shalatlah kalian di masjid.” Oleh karena itu, hal ini menunjukkan bahwa shalat gerhana diperintahkan untuk dikerjakan walaupun seseorang melakukan shalat tersebut sendirian. Namun, tidak diragukan lagi bahwa menunaikan shalat tersebut secara berjama’ah tentu saja lebih utama (afdhol). Bahkan lebih utama jika shalat tersebut dilaksanakan di masjid karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat tersebut di masjid dan mengajak para sahabat untuk melaksanakannya di masjid. Ingatlah, dengan banyaknya jama’ah akan lebih menambah kekhusu’an. Dan banyaknya jama’ah juga adalah sebab terijabahnya (terkabulnya) do’a.”

Ketiga : wanita juga boleh shalat gerhana bersama kaum pria.
Dari Asma` binti Abi Bakr, beliau berkata,
“Saya mendatangi Aisyah radhiyallahu ‘anha -isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- ketika terjadi gerhana matahari. Saat itu manusia tengah menegakkan shalat. Ketika Aisyah turut berdiri untuk melakukan sholat, saya bertanya: ‘Kenapa orang-orang ini?’ Aisyah mengisyaratkan tangannya ke langit seraya berkata, ‘Subhanallah (Maha Suci Allah).’ Saya bertanya: ‘Tanda (gerhana)?’ Aisyah lalu memberikan isyarat untuk mengatakan iya.” (HR. Bukhari no. 1053)

Keempat : menyeru jama’ah dengan panggilan “ash sholatu jaami’ah” dan tidak ada adzan maupun iqomah.
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan,

“Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan bahwa pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terjadi gerhana matahari. Beliau lalu mengutus seseorang untuk memanggil jama’ah dengan: ‘ASH SHALATU JAMI’AH’ (mari kita lakukan shalat berjama’ah). Orang-orang lantas berkumpul. Nabi lalu maju dan bertakbir. Beliau melakukan empat kali ruku’ dan empat kali sujud dalam dua raka’at.” (HR. Muslim no. 901).
Dalam hadits ini tidak diperintahkan untuk mengumandangkan adzan dan iqomah. Jadi, adzan dan iqomah tidak ada dalam shalat gerhana.

Kelima : berkhutbah setelah shalat gerhana.
Disunnahkah setelah shalat gerhana untuk berkhutbah, sebagaimana yang dipilih oleh Imam Asy Syafi’i, Ishaq, dan banyak sahabat (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, 1/435). Hal ini berdasarkan hadits:

Dari Aisyah, beliau menuturkan bahwa gerhana matahari pernah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dan mengimami manusia dan beliau memanjangkan berdiri. Kemuadian beliau ruku’ dan memperpanjang ruku’nya. Kemudian beliau berdiri lagi dan memperpanjang berdiri tersebut namun lebih singkat dari berdiri yang sebelumnya. Kemudian beliau ruku’ kembali dan memperpanjang ruku’ tersebut namun lebih singkat dari ruku’ yang sebelumnya. Kemudian beliau sujud dan memperpanjang sujud tersebut. Pada raka’at berikutnya, beliau mengerjakannya seperti raka’at pertama. Lantas beliau beranjak (usai mengerjakan shalat tadi), sedangkan matahari telah nampak. Setelah itu beliau berkhotbah di hadapan orang banyak, beliau memuji dan menyanjung Allah, kemudian bersabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.”
Nabi selanjutnya bersabda, “Wahai umat Muhammad, demi Allah, tidak ada seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah karena ada seorang hamba baik laki-laki maupun perempuan yang berzina. Wahai Umat Muhammad, demi Allah, jika kalian mengetahui yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis
.” (HR. Bukhari, no. 1044)

Khutbah yang dilakukan adalah sekali sebagaimana shalat ‘ied, bukan dua kali khutbah. Inilah pendapat yang benar sebagaimana dipilih oleh Imam Asy Syafi’i.

Tata Cara Shalat Gerhana
Shalat gerhana dilakukan sebanyak dua raka’at dan ini berdasarkan kesepakatan para ulama. Namun, para ulama berbeda pendapat mengenai tata caranya. Ada yang mengatakan bahwa shalat gerhana dilakukan sebagaimana shalat sunnah biasa, dengan dua raka’at dan setiap raka’at ada sekali ruku’, dua kali sujud. Ada juga yang berpendapat bahwa shalat gerhana dilakukan dengan dua raka’at dan setiap raka’at ada dua kali ruku’, dua kali sujud. Pendapat yang terakhir inilah yang dipilih oleh mayoritas ulama. Sebagaimana HR. Bukhari, no. 1044 diatas.

Ringkasnya, tata cara shalat gerhana adalah sebagai berikut:

  1. Berniat di dalam hati
  2. Takbiratul ihram yaitu bertakbir sebagaimana shalat biasa.
  3. Membaca do’a iftitah dan berta’awudz, kemudian membaca surat Al Fatihah dan membaca surat yang panjang (seperti surat Al Baqarah) sambil dijaherkan (dikeraskan suaranya, bukan lirih) sebagaimana terdapat dalam hadits Aisyah:
    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjaharkan (mengeraskan) bacaannya ketika shalat gerhana.”
    (HR. Bukhari no. 1065 dan Muslim no. 901)
  4. Kemudian ruku’ sambil memanjangkannya.
  5. Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal) sambil mengucapkan ‘SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH, RABBANA WA LAKAL HAMD
  6. Setelah i’tidal ini tidak langsung sujud, namun dilanjutkan dengan membaca surat Al Fatihah dan surat yang panjang. Berdiri yang kedua ini lebih singkat dari yang pertama.
  7. Kemudian ruku’ kembali (ruku’ kedua) yang panjangnya lebih pendek dari ruku’ sebelumnya.
  8. Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal).
  9. Kemudian sujud yang panjangnya sebagaimana ruku’, lalu duduk di antara dua sujud kemudian sujud kembali.
  10. Kemudian bangkit dari sujud lalu mengerjakan raka’at kedua sebagaimana raka’at pertama hanya saja bacaan dan gerakan-gerakannya lebih singkat dari sebelumnya.
  11. Salam.
  12. Setelah itu imam menyampaikan khutbah kepada para jama’ah yang berisi anjuran untuk berdzikir, berdo’a, beristighfar, sedekah, dan membebaskan budak.

Penutup
Fenomena kejadian gerhana merupakan bukti kebesaran Allah yang ditunjukkan kepada makhluk-Nya untuk dijadikan bahan tafakkur. Gerhana sering juga disebut sebagai gejala alam yangbisa diprediksi kapan kejadiannya. Namun, semua itu adalah kehendak Allah. Bagi Dia bisa saja andaikata tidak mengembalikan posisi bulan dan matahari sebagaimana sebelumnya. Jika hal ini terjadi tentu akan datang bencana yang hebat di muka bumi ini, karena selamanya matahari, yang menjadi sumber kehidupan bagi makhluk di bumi ini, akan terhalang oleh bulan dan kita akan mengalami seperti malam yang sangat panjang. Inilah mungkin yang disebut KIAMAT. Na’udzubillah.

Oleh karena itu, sikap yang tepat ketika fenomena gerhana ini adalah takut dan khawatir namun tetap berpengharapan kepada Allah. Jangan mengikuti kebiasaan orang-orang yang hanya ingin menyaksikan peristiwa gerhana dengan membuat album kenangan fenomena tersebut, tanpa mau mengindahkan tuntunan dan ajakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika itu. Siapa tahu peristiwa ini adalah tanda datangnya bencana atau adzab, atau tanda semakin dekatnya hari kiamat.
Mari kita renungkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini :

Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu menuturkan, “Pernah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi lantas berdiri takut karena khawatir akan terjadi hari kiamat, sehingga beliau pun mendatangi masjid kemudian beliau mengerjakan shalat dengan berdiri, ruku’ dan sujud yang lama. Aku belum pernah melihat beliau melakukan shalat sedemikian rupa.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Sesungguhnya ini adalah tanda-tanda kekuasaan Allah yang ditunjukkan-Nya. Gerhana tersebut tidaklah terjadi karena kematian atau hidupnya seseorang. Akan tetapi Allah menjadikan demikian untuk menakuti hamba-hamba-Nya. Jika kalian melihat sebagian dari gerhana tersebut, maka bersegeralah untuk berdzikir, berdo’a dan memohon ampun kepada Allah
.” (HR. Muslim no. 912)

Wallahu a’lam, wal ‘ilmu ‘indallah.

Dari berbagai Sumber

About these ads
Explore posts in the same categories: Keislaman

13 Komentar pada “MENYIKAPI GERHANA MATAHARI SESUAI SYARIAT ISLAM”

  1. jiwakelana Says:

    Gerhana harus tetap kita yakini sbg fenomena alam dan sesuatu yg memang tlh diceritakan dalam Al-Qur’an. Mmg sjauh ini msh bnyak yg mengaitkan peristiwa gerhana dgn berbagai mitos dan kejadian2. Di tempat kami bila ada gerhana tdk boleh keluar rumah, saya sndiri tidak bgtu mengerti tp kata mereka akan terjadi ssuatu bila kita keluar saat terjadi gerhana. Sayangnya saya blm pernah mndengar ada kejadian aneh2 seperti yg mereka khawatirkan.

  2. Ahmad Marwan Says:

    Apakah doa shalat gerhana dan apakah hikmat dan fungsinya?


  3. hikmah dan fungsinya, kita semaakin menyadari akan kebesaran Allah. Mohon maaf untuk doanya tidak bisa disampaikan lewat blog ini, sudah banyak sumber yang ditulis oleh para ulama

  4. fikri haikal Says:

    mohon dikirim materi khotbah gerhana, baik bulan dan matahari


  5. Assalamu’alaikum. Saya kirim materi tentang Gerhana, mohon maaf tidak berbentuk materi khutbah

  6. ayyash Says:

    kalau ga’ kayak di atas apakah sah juga shalatnya…?
    syukron………/
    barakallahu fiikum/………

  7. Abi Royyan Says:

    Syukron Bapak Usep. Walaupun tidak berbentuk khutbah, tapi menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kami, khususnya yang harus mengisi khutbah gerhana.
    Semoga hal ini menjadi memasyarakat, karena sampai saat ini yang mengetahui banyak tapi yang melakukan sesuai dengan syariat Islam sangat sedikit.

  8. F4iz Says:

    Subhanallah, Informasi yang berharga. Terima kasih, pak…

  9. iip Says:

    semoga kita lebih bisa mendekatkan diri kepada allah swt, hy kaum muslimin di seluruh dunia ingatlah akan kebesaran tuhanmu, apakah itu belum cukup untuk menambah keyakinanmu dalam beragama, apakah sampai kita benar2 dipanggil olehnya baru kita percaya, mungkin hanya penyesalan yang akan kau dapatkan nantinya. . . wassalam

  10. harly Says:

    Apakah solat gerhana itu haris di laksananakan tepat pada saat terjadi gernaha,?
    gimana kalo seandainya gerhana terjadi pada malam hari dan kita baru mengetahuinya pada saat siang hari apakah yang sebaiknya kita lakukan ,,?


  11. Betul, menurut keterangan/dalil yang saya baca, sholat gerhana itu dilaksanakan tepat pada saat terjadinya, jadi kalau mengetahuinya setelah gerhana berlalu, tidak perlu melaksanakaannya. wallahu’alam. Terima kasih.

  12. Ben Abdat Says:

    syukron ustadz,izin share…


  13. alhamdulillah, mudah2an bermanfaat


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: