UPAYA MENINGKATKAN MUTU PEMBELAJARAN MELALUI LESSON STUDY


lesson-study1Paradigma pembelajaran di kelas dewasa ini telah mengalami pergeseran orientasi. Semula, orientasi pembelajaran itu tidak lebih sekedar penyampaian informasi kepada peserta didik. Namun sekarang, pembelajaran lebih diutamakan untuk menggali potensi peserta didik, sehingga memancar daripadanya pengetahuan (kognitif), sikap (afektif) dan keterampilannya (psikomotor). Strategi yang digunakan pun tidak lagi sekedar pemberian materi, tetapi juga menstimulasi peserta didik agar mampu merumuskan sendiri konsep-konsep yang dipelajarinya.

Adanya pergeseran paradigma itu mejadikan peran guru di kelas berubah, dari peran yang hanya penyampai informasi (transformator) kepada peran sebagai perantara (fasilitator dan mediator). Dengan kata lain, pergeseran dari “teacher centered” ke “student centered“.

Adanya pergeseran paradigma tersebut, menuntut guru untuk lebih meningkatkan kompetensinya, baik sebagai seorang profesionalisme maupun sebagai seorang craftmant (tenaga ahli dan terampil).
Peningkatan kompetensi guru sebagai seorang professional dalam pandangan Prof. Masaaki SATO dari JICA Expert, dapat ditempuh dengan cara :

  1. Memahami secara mendalam ilmu pengetahuan dalam bidangnya.
  2. Memahami ilmu pengetahuan yang terkait dengan teori-teori pembelajaran.
  3. Memahami Filosofi Belajar, misalnya : mampu menciptakan situasi pembelajaran yang dapat diikuti oleh semua siswa tanpa kecuali.
  4. Dapat membuat rencana pembelajaran untuk 1 (satu) jam pelajaran.
  5. Dapat mendengar pendapat teman sejawat tanpa membedakan umur (senioritas)

Meningkatkan kompetensi dilakukan oleh guru baik secara mandiri maupun dengan teman sejawat di sekolahnya. Namun adakalanya upaya secara mandiri dan dengan teman sejawat dalam satu sekolah pun seringkali tidak berjalan efektif dan kurang berkembang. Oleh karena itu diperlukan upaya lain yaitu melalui kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), yang biasanya terdiri dari guru mata pelajaran yang sejenis dari beberapa sekolah dalam satu kawasan.
Selama ini kegiatan MGMP ternyata belum berjalan optimal dan masih bersifat insidental, terutama bila sudah mendekati pelaksanaan Ujian Nasional. Sehingga MGMP hanya sebatas mencari strategi-strategi untuk penyelesaian soal-soal ujian belaka, belum menyentuh pada pembahasan menyeluruh untuk menemukan pemecahan dalam kesulitan belajar.

Tidak berjalannya kegiatan MGMP secara optimal belakangan ini terpecahkan dengan digulirkannya kegiatan pelatihan guru berbasis sekolah yang dinamakan dengan Lesson Study.

Lesson Study merupakan model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar.

Lesson Study adalah program yang diterapkan oleh SISTTEMS, (Strengthening In-Service Teacher Training of Mathematics and Science Education at Junior Secondary Level) yaitu bentuk kerjasama antara JICA (Japan International Cooperation Agency) dan MONE / Depdiknas (Ministry of National Education / Departemen Pendidikan Nasional) Indonesia.

Lesson Study bukan merupakan metoda atau strategi pembelajaran tetapi kegiatan yang dapat menerapkan berbagai metoda dan strategi pembelajaran yang sesuai dengan situasi, kondisi, kemampuan komunitas pembelajaran serta berbagai permasalahan yang dihadapi dalam kegiatan pembelajaran.

Lesson Study adalah metode yang berorientasi pada praktek untuk meningkatkan ketrampilan mengajar oleh guru-guru itu sendiri. Lesson Study biasanya terdiri dari tahapan-tahapan berikut:

  1. guru mempersiapkan rencana pembelajaran (PLAN-tahap perencanaan),
  2. salah seorang guru mempraktekkan rencana pembelajaran di kelas yang sesungguhnya, sedangkan para guru pendamping yang lain mengamati pembelajaran tersebut (DO-tahap pembelajaran terbuka),
  3. setelah pembelajaran, guru pengajar dan para guru pengamat mendiskusikan hasil pembelajaran, menyampaikan umpan balik pada guru pengajar (SEE-tahap refleksi).

Kelebihan dari metode ini adalah, peran guru yang dapat berubah-ubah: siapapun dapat berperan sebagai guru pengajar dalam satu waktu dan menjadi guru pengamat di lain waktu. Pergantian peran ini menciptakan rasa saling mengerti serta mendukung di antara guru dan secara efektif meningkatkan mutu proses belajar-mengajar. Bermacam-macam istilah yang digunakan untuk metode sejenis ini di berbagai sumber pustaka, misalnya:”action research“, “coaching“, dan “clinical supervision“. Dalam program ini, lesson study akan digunakan sebagai istilah umum untuk kegiatan yang berusaha untuk mengembangkan profesi guru.

Revolusi pembelajaran yang dilakukan melalui kegiatan Lesson Study telah menunjukkan hasil yang luar biasa. Indikator keberhasilannya itu dapat dilihat diantaranya :

  1. Tumbuhnya semangat guru dalam mencari dan menerapkan berbagai metoda atau strategi pembelajaran. Hal ini dikarenakan setiap dilaksanakan implementasi Lesson Study, guru dituntut untuk memilih metoda atau strategi pembelajaran yang lain dari yang pernah dipakai dalam implementasi-implementasi sebelumnya.
  2. Tumbuhnya prinsip kolegalitas diantara guru-guru mata pelajaran, khususnya yang sejenis. Hal ini ditunjukkan dengan semakin efektifnya kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Sebelumnya, kegiatan MGMP itu ,kalaupun ada, hanya terbatas bila menghadapi Ujian Nasional saja. Bahkan kegiatan MGMP pun biasanya diselenggarakan oleh sub rayon, bahkan rayon, yang tentu secara domisili kesulitan dijangkau oleh transportasi, terutama di sekolah-sekolah yang berada di pinggiran. Melalui kegiatan MGMP yang diselenggarakan di Base Camp, lebih mudah dijangkau oleh guru-guru anggota MGMP, sehingga silaturrahmi dan kolegalitas, sebagai ruh Lesson Study, dapat tercipta.
  3. Dukungan moril dan materil dari pimpinan sekolah semakin kuat. Hal ini bisa dilihat pada setiap kegiatan Lesson Study melalui MGMP mendapat dukungan dari kepala sekolah. Bahkan hampir setiap kegiatan Lesson Study dihadiri langsung oleh kepala sekolah-kepala sekolah, khususnya dalam satu base camp. Tentunya, dengan dukungan yang besar dari pimpinan akan memberti motivasi bagi untuk mengikuti kegiatan MGMP. Tetapi sebaliknya, bila pimpinan sekolah tidak memberi motivasi, maka gurunya pun tidak akan semangat mengikuti kegiatan MGMP.
  4. Guru mendapat banyak pencerahan, selain dari teman sejawat, juga dari para dosen pembimbing (fasilitator) yang setiap pertemuan selalu hadir untuk memberikan dukungan, baik ketika melakukan PLAN (perencanaan), DO (pelaksanaan/implementasi) dan SEE (refleksi). Dengan kehadiran para dosen tersebut, guru semakin banyak mendapat pencerahan serta termotivasi untuk melakukan inovasi-inovasi dalam pembelajaran. Hal ini tentu berbeda bila melalui kegiatan MGMP konvensional.

Prof. Masaako SATO, mengemukakan pendapatnya ketika Seminar Nasional “Exchange of Experiences on Best Practices of Lesson Study” di UPI Bandung bulan Juli yang lalu, bahwa agar kegiatan Lesson Study Berbasis Sekolah (LSBS) sukses, maka syaratnya adalah :

  1. Seluruh guru harus memiliki persepsi yang sama dalam visi, konsep belajar dan strateginya, serta filosofi belajarnya.
  2. Guru melaksanakan Lesson Study secara berkesinambungan dengan dipimpin oleh Kepala Sekolah
  3. Kepala Sekolah memotivasi guru untuk dapat menjadi pemimpin dalam melaksanakan dan mengembangkan Lesson Study.
  4. Mengambil fasilitator atau dosen untuk berdiskusi mengenai pembelajaran di kelas.

Oleh karena itu, upaya untuk meningkatkan kegiatan Lesson Study agar berjalan lebih baik harus mendapat perhatian dan merupakan tugas dan tanggung jawab bersama, baik bagi guru-guru, pimpinan sekolah, dinas pendidikan dan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang terlibat langsung dengan kegiatan Lesson Study.

About these ads
Explore posts in the same categories: Pendidikan

8 Komentar pada “UPAYA MENINGKATKAN MUTU PEMBELAJARAN MELALUI LESSON STUDY”

  1. budisan68 Berkata

    wah,… bagus terutama untuk saya yg dipedalaman dan gak pernah pelatihan

  2. Usep Supriatna Berkata

    Terima kasih atas kunjungannya. Saya juga sangat apresiatif terhadap blog anda. Mudah2an bisa saling tukar pengalaman mengenai pengajaran, saya juga mengajar di daerah yang cukup terpencil di sumedang. Mas, saya taut blog anda di blog saya. trims.

  3. JASMANSYAH Berkata

    seneng bisa shilaturahmi dengan orang2 kretif kayak bapa2. salam kenal dari saya. kunjungi jga blog saya di: http:/www.jasmansyah76.wordpress.com

  4. syarif Berkata

    Lesson Study ini jga pernah kita bahas di kuliahnya p”Marsigit, kita baru hanya membahas sekilas konsep namun belum pernah coba kita praktekkan. pada saat itu kita coba merefleksikan bagaimana pembelajaran yang dilakukan di Jepang. Lesson study ini merupakan bagian dari cara yang dilakukan oleh guru untuk mengetahui apa yang menjadi kelemahan, kekurangan, pada saat guru mengajar atau dengan kata lain (mereflekksikan). thanks pak atas tulisannya…. ternyata banyak manfaatnya pak ya…

  5. suprapta Berkata

    baguss,terus berkarya….

  6. suwarno Berkata

    Lesson Study memang menjadi satu model pembelajaran efektif tetapi apakah kelebihan dan kelemahan mendasar dari model ini


  7. apa arti kolegalitas

  8. Usep Supriatna Berkata

    kolegalitas dalam pembelajaran maksudnya adalah bahwa kegiatan itu pembelajaran itu tidak hanya dilakukan oleh seorang tetapi bisa bersama-sama dengan teman sejawat, salah satunya dengan Lesson Study ini.
    Terima kasih atas kunjungannya, semoga bisa saling bertukar pengalaman.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: