KEMATIAN

Posted in Pendidikan on September 27, 2009 by Usep Supriatna

Ketakutan pada kematian adalah fitrah setiap insan, bahkan secara naluri, manusia ingin selalu hidup seribu tahun lagi. Tak ada orang yang ingin mati, kecuali mereka yang telah putus asa. Nabi Saw. tidak pernah menyarankan ummatnya minta segera untuk didatangi kematian, walau beliau juga melarang umatnya takut pada kematian.

Jika kita selalu berharap untuk mati dengan segera, maka waspadalah, boleh jadi itu adalah bisikan syetan agar kita menjadi orang yang berputus asa terhadap rahmat Allah.

Kematian adalah takdir-Nya yang tak seorang makhluk pun bisa menghindar bahkan menunda-nunda kematian. Oleh karena itu , jangan sampai kematian itu datang pada saat kita sedang putus asa dan meminta segera untuk mati. Biarlah kematian itu menghampiri kita pada saat dan waktu yang telah ditentukan-Nya.

Meminta-minta kematian, karena ketakutan semakin bertambah dengan dosa, justru akan mengundang datangnya dosa yang lebih besar lagi. Meminta-minta kematian adalah penyangkalan dari realitas dunia yang harus dihadapi dengan  kehidupan ini. Dunia ini adalah persemaian bagi karya-karya dan amal-amal yang kelak akan memberi jalan bagi nikmatnya sebuah kematian. Jangan kita mati sebelum mati, sebab akan mematikan seluruh daya yang telah dianugerahkan oleh Allah sebagai modal hidup di dunia ini.

Memang, kematian bagi seorang manusia bukan sebuah kepunahan atau akhir dari kehidupan, melainkan gerbang menuju kehidupan yang sebenarnya. Kematian adalah awal dari suatu perjalanan panjang dalam evolusi kehidupan manusia dimana selanjutnya dia akan mengalami kehidupan dengan beragam kenikmatan atau penderitaan. Ketika seseorang beramal dengan amalan keburukan selama di dunia, maka kematian adalah gerbang untuk memasuki keabadian dalam penderitaan. Orang yang senantiasa beramal dengan amalan kebaikan, maka kematian adalah gerbang menuju keabadian dalam kebahagiaan.

Memohon istighfar, bertaubat dan senantiasa berbuat kebajikan adalah upaya untuk mempersiapkan diri, agar pada saat takdir kematian itu tiba, kita bisa menjumpai-Nya dalam keadaaan akhir kehidupan yang terbaik (husnul khatimah).

“Ya Allah jadikan kehidupan kami ini sebagai ladang untuk bertambah dengan kebajikan dan jadikan pula kematian kami kelak sebagi penghenti dari segala keburukan”

MUDIK : Inna Lillahi Wainna Ilaihi Raji’un

Posted in Keislaman on September 18, 2009 by Usep Supriatna

Indonesia, kaya akan keunikan budaya. Indonesia adalah negeri dimana budaya kreatif mewarnai nafas dan riak kehidupan bangsanya. Kreativitas budaya bangsa ini kadang-kadang membuat negeri lain (baca : negeri tetangga) tergoda untuk mencuri dan mengklaimnya. Inilah anugerah Tuhan yang patut disyukuri dengan selalu menjaga kreativitas dan produktivitas dalam mengolah dan mempertahankan budaya sendiri sebagai identitas bangsa. Jangan hanya kebakaran jenggot saja ketika ada negara tetangga yang mengklaim budaya kita, sementara kita sendiri tidak pernah menghargai dan merawatnya.

Hasil kreativitas budaya tak luput juga mewarnai tradisi keagamaan. Tentu saja tidak dimaksudkan untuk menambah muatan ajaran agama, melainkan sekedar menjadi alat agar produk langit itu bisa mudah dipahami oleh penduduk bumi (manusia). Jika saja para Nabi dan Rasul yang dibimbing langsung oleh Tuhan dan sebagai tangan pertama pembawa risalah, masing-masing memiliki cara dan metoda yang berbeda-beda dalam penyampaiannya pesan-pesan Ilahi itu kepada kaumnya yang disesuaikan dengan kondisi dan situasi umatnya. Maka, untuk generasi berikutnya, yang punya tanggung jawab untuk menindaklanjuti tugas kerisalahan ini, dan tanpa dibimbing langsung oleh Tuhan, berupaya untuk memilih cara dan metode yang tepat untuk menyampaikan ajaran Tuhan itu kepada pengikutnya. Maka pendekatan budaya dan tradisi yang ada menjadi sebuah keniscayaan untuk ditempuh demi kelancaran dakwah dan penyebaran risalah.

Salah satu produk budaya kreatif yang merupakan hasil akulturasi dengan tradisi local yang ada, khususnya di Indonesia, adalah perayaan ‘Idul Fitri sebagai hari raya bagi umat Islam setelah menjalani ibadah puasa sebulan penuh. Bagi umat Islam Indonesia, Idul Fitri memiliki kekhasan tersendiri. Istilah yang digunakan bagi umat Islam di negeri ini adalah “lebaran”. Tradisi keagamaan yang bukan saja menjadi milik umat Muslim secara eksklusif, tapi telah menjadi kultur bangsa yang unik. Dua ungkapan yang sering kita dengar, maupun kita baca di kartu lebaran atau pesan singkat di telepon seluler (SMS) adalah ungkapan“minal aidin wal faizin” dan “halal bi halal”. Padahal, dua frasa berbahasa Arab itu, konon tak ditemukan dalam kultur Arab sendiri.

Keunikan masyarakat dalam konteks tradisi keagamaan adalah penggunaan istilah “Lebaran” yang jauh lebih populer ketimbang ‘Idul Fitri, mungkin karena hal itu sudah sangat merekat dalam ingatannya sejak kecil. Salah satu bentuk tradisi menyambut hari raya di Indonesia juga unik adalah tradisi mudik. Mudik adalah salah satu cara untuk mengunjungi kampung halaman dan bersilaturrahmi kepada orang tua, saudara, teman, guru, serta handai taulan. Mudik merupakan pemandangan tahunan yang memberi nuansa lain di penghujung bulan Ramadhan.

Berjejal-jejalan di stasiun kereta, di terminal bis dan bermacet-macetan dijalan raya, tidak membuat para pemudik kapok dan tidak melakukannya ditahun berikutnya. Malah yang terjadi justru sebaliknya, setiap tahun adanya peningkatan jumlah pemudik. Bagi mereka siksaan seperti itu adalah bagian dari kebahagiaan itu sendiri, sebagai resiko karena ingin meraih kebahagiaan sebenarnya tatkala bisa sampai di kampung halaman, tempat kelahirannya.

Bagi mereka, hari raya adalah kemewahan dan pencurahan kebahagian yang tidak mereka dapatkan sehari-hari. Boleh saja orang bilang bahwa itu adalah akibat urbanisasi atau modernisasi yang timpang antara desa dan kota. Tetapi itulah biaya dari berputarnya terus roda kehidupan yang tidak bisa dihentikan. Yang pasti siksaan yang diakibatkan oleh perjalanan mudik yang melelahkan itu adalah sejenis kebahagiaan yang harus diteguk agar keinginan untuk mengobati kerinduan kepada kampung halamannya bisa diraih.

Tradisi mudik lebaran yang merupakan momen pertemuan antara nilai keislaman dengan budaya bangsa itu sejatinya harus memberi makna dan pesan moral bagi proses penguatan kesadaran kemanusiaan kita. Betapa rasa rindu akan kampung kelahiran (primordial) begitu menguat menjadi kesadaran yang tidak bisa dilepaskan dalam diri manusia. Jika ditarik lebih jauh lagi, maka kita akan menemukan hakikat primordialisme itu sebagai fitrah (naluri) kemanusiaan. Bahwa manusia, meminjam istilah Jalaluddin Rumi, adalah seruling bambu yang tercerabut dari rumpunnya. Lengkingan pilu suara seruling itu adalah jeritan rindu manusia untuk kembali kepada “rumpun sejatinya”.

Manusia, sejatinya tidak akan pernah melupakan tempat dimana asal-muasalnya berada. Nurani yang ada dalam diri manusia akan selalu mengingatkan bahwa di dunia ini bukanlah tempat tinggal sejatinya. Nurani akan selalu menyadarkan kita bahwa asal kita adalah di “tempat luhur’ yang penuh keabadiaan, bukan di alam rendah ini yang penuh kepalsuan. Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un (Sesungguhnya dari Dia kamu berasal dan kepada Dia pula kamu kembali).

GODAAN MENJELANG LEBARAN

Posted in Keislaman on September 9, 2009 by Usep Supriatna

”Dan apabila mereka melihat perdagangan dan permainan/hiburan, mereka segera berkerumun ke sana dan meninggalkan engkau (Muhammad) berdiri (sendirian di atas mimbar). Katakan, apa yang ada di sisi Allah lebih baik dari permainan dan perdagangan itu. Dan Allah adalah pemberi rezeki yang terbaik.”

Pada suatu hari, tatkala Rasulullah sedang menyampaikan khutbah Jumat di Madinah, di luar Masjid terdengar gemerincing suara rombongan kafilah dagang yang baru datang dari Suriah dengan aneka barang dagangannya yang menggoda dan diiringi dengan tabuhan-tabuhan hiburan. Sebagian para sahabat Nabi yang semula khusyuk mendengarkan khutbah, terusik kekhusyuannya dan tak sabar untuk bergegas keluar, berburu menyambut kafilah itu dengan harapan mendapat barang yang diinginkannya dan meninggalkan Nabi yang masih berdiri di atas mimbar.

Baca selebihnya »

DAN ALLAH PUN MENGINGATKAN KEMBALI

Posted in Pendidikan on September 3, 2009 by Usep Supriatna

GempaGempa bumi dengan kekuatan 7,3 Skala Richter yang berpusat di Tasikmalaya, yang terjadi pada hari Rabu, 2 September yang lalu, getarannya begitu kuat terasa oleh masyarakat Jawa Barat, Banten, DKI Jakarta, bahkan sampai Jawa Tengah, Bali dan Sumatera. Gedung-gedung runtuh, rumah-rumah rata dengan tanah, beberapa orang tewas, tak terhitung pula yang luka berat maupun ringan. Masya Allah ! Inilah bencana yang mendera bangsa ini untuk kesekian kalinya.
Baca selebihnya »

PENGHAMBAAN PADA DUNIA

Posted in Keislaman on Agustus 26, 2009 by Usep Supriatna

Ada sebuah kisah imajinatif yang disampaikan oleh seorang sufi untuk mengingatkan kita agar berhati-hati dalam menghadapi cobaan dan godaan dunia.

Syahdan, pada suatu malam, ketika sedang bertafakur, seorang Sufi melelehkan air matanya, yang berlanjut dengan dialog antara Sang Sufi dengan air matanya. Sang Sufi bertanya, “Wahai air mata ! mengapa engkau mengucur dari mataku ?”

Saya keluar dari tubuhmu lewat matamu, karena saya tak tahan atas panas yang dikeluarkan oleh hatimu”, jawab air mata.

Baca selebihnya »

MALAPETAKA KEHIDUPAN

Posted in Keislaman on Agustus 24, 2009 by Usep Supriatna

Banyak orang yang berpendapat bahwa saat ini kita berada di jaman yang serba materialistik dan hedonistik, dimana masyarakat cenderung untuk lebih mengutamakan materi dan dunia diatas segala-galanya. Materi dan dunia ini dianggap suatu hal yang paling penting sehingga menjadi rebutan setiap orang, bahkan juga menjadi sumber malapetaka, karena banyak tindakan kriminal dilakukan semata-mata karena berebut keduanya.

Setiap saat nyaris kita mendengar berita-berita di media tentang perilaku-perilaku kejahatan dan tindakan keji, baik kecil maupun besar. Penipuan, pembunuhan, perampokan, korupsi, dan lain-lain, kerap menghiasi pemberitaan sehari-hari. Perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan moral, etika dan agama itu terjadi karena manusia banyak dipengaruhi dan tidak sanggup mengendalikan kecintaannya kepada dunia.

Baca selebihnya »

MENGHADIRKAN TUHAN

Posted in Keislaman on Agustus 21, 2009 by Usep Supriatna

Ramadhan telah datang sering beranjaknya Sya’ban. Suka cita menyambut kehadiran bulan yang agung itu diekspresikan dengan beragam cara. Ada yang saling berkirim ucapan permohonan maaf, ada yang berbagi catatan seputar keutamaan Ramadhan, ada juga yang mengekspresikannya dengan berbelanja busana plus assesoris muslim/muslimah untuk perlengkapan menghadiri kegiatan-kegiatan keagamaan di bulan Ramadhan. Beragam cara, beragam motivasi, beragam niat untuk satu momen penting, Ramadhan.
Baca selebihnya »

MEMAKNAI (PERAYAAN) KEMERDEKAAN

Posted in Pendidikan on Agustus 17, 2009 by Usep Supriatna

Gegap gempita perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Rakyat Indonesia yang ke-64, hampir mewarnai seluruh tempat di pelosok tanah air. Berbagai kegiatan yang sangat kreatif disuguhkan sebagai upaya memaknai hari yang bersejarah itu. Di kota-kota dan di kampung-kampung, masyarakat memenuhi balaikota atau alun-alun untuk menyaksikan kegiatan upacara peringatan detik-detik proklamasi yang dilanjutkan pawai jampa dengan iring-iringan musik-musik tradisional sampai modern. Riuh-rendah anak-anak sampai orang dewasa, tak ketinggalan para pedagang, hanyut dalam kegembiraan yang menjadi pemandangan rutin di bulan Agustus ini.
Baca selebihnya »

Kemerdekaan itu……………..

Posted in Umum on Agustus 16, 2009 by Usep Supriatna

Kemerdekaan itu adalah saat-saat dimana rakyat jelata tidak kesulitan untuk mempertahankan hidupnya. Tidak sulit untuk membeli bahan makanan pokok, yang harganya terus membumbung tinggi, tidak sulit memperoleh minyak tanah yang harganya melangit dan sulit ditemukan, sementara elpiji juga dibayangi oleh kenaikan.

Kemerdekaan itu adalah saat-saat dimana para nelayan tidak kesulitan untuk melaut, mencari ikan untuk menyambung hidupnya. Tidak kesulitan untuk memperoleh solar untuk menghidupkan perahu motornya, tidak sulit menjual ikan-ikan hasil tangkapannya dengan harga yang pantas.
Baca selebihnya »

MAKNA KEDEWASAAN

Posted in Keislaman on Agustus 12, 2009 by Usep Supriatna

Waktu dalam kehidupan bagi seorang manusia, adalah sebuah misteri. Waktu adalah kumpulan titik-titik abstrak yang memanjang dan menjadi dimensi yang tidak lepas dari perilaku manusia. Waktu bukan ruang hampa yang terbebas dari tindakan manusia. Setiap detik dengan detik lainnya memiliki pemaknaan yang berbeda.

Kanjeng Nabi telah berwasiat. “Hari ini harus lebih baik dari kemarin.” Wasiat yang mengingatkan kepada betapa penting memaknai setiap detik yang dilalui. Tanpa pemaknaan yang berarti, hidup menjadi mubazir dan kemubaziran adalah pangkal kehancuran.
Baca selebihnya »