Kafilah-kafilah calon hujjaj dari seantero dunia, yang telah meninggalkan tanah airnya masing-masing, kini sudah mulai bergerak menuju Mekkah Al-Mukarramah untuk menantikan saat-saat yang paling menentukan dan menjadi syarat pokok rukun Islam ke lima. Kebahagiaan tampak dari raut para Tamu Allah itu, karena keinginan yang sudah bertahun-tahun itu akhirnya tercapai juga. Tentu saja, dibalik kebahagiaan karena mampu menunaikan ibadah haji, terselip juga kesedihan karena harus meninggalkan semua yang dicintai di tanah air. Namun, kesedihan itu harus segera mereka enyahkan, karena dikhawatirkan menjadi batu sandungan bagi keikhlasan mereka dalam mencari keridhaan Allah. Perjalanan haji bukanlah perjalanan biasa. Bukan seperti pesiar ke mancanegara, tapi justru adalah perjalanan pulang kembali ke kampung halaman manusia. “Tinggalkan rumahmu dan kunjungilah rumah Allah atau rumah ummat manusia”, kata Dr. ‘Ali Shariati. Oleh karena itu, haji adalah perjalanan yang penuh dengan perjuangan dan pengorbanan. Perjuangan hidup dan mati. Perjuangan menemukan kesejatian hidup.
Fenomena semangat untuk berhaji setiap tahun secara kuantitatif terus meningkat, sekalipun pemerintah membatasi dengan berbagai ketentuan. Namun, secara kualitatif, ibadah haji belum berbanding lurus dengan perilaku sosial umat. Indikasi banyaknya pelaku korupsi di kalangan pejabat yang sudah menunaikan ibadah haji, menunjukan bahwa ibadah haji masih dianggap sebatas wisata reliji bahkan selebrasi, yang tidak mesti memberi dampak bagi perubahan tingkah laku ke ranah yang lebih baik.. Padahal, jika ditinjau dari segi bahasa, haji bermakna al-qashdu yang berarti naik atau menuju. Makna ini mengisyaratkan pelakunya siap meninggalkan sekaligus menanggalkan kesenangan duniawi yang bersifat individual menuju pengabdian sosial. Keberangkatan haji dari tanah air menuju tanah suci merupakan perjalanan menuju manusia sejati, yakni manusia yang bertransformasi dari misi individual-material menuju misi sosial-spiritual.
Makna mabrur yang merupakan indikator diterimanya ibadah haji berasal kata al-birr, berarti kebaikan. Dalam Alqur’an Allah berfirman: ”Kalian belum mencapai kebaikan (al-birr) hingga mampu mendermakan sebagian harta yang kalian cintai.” (QS Ali Imran [3]: 92). Bahkan dalam hadits, Rasulullah ditanya, ”Apa makna mabrur?” Dijawab, ”Suka memberi makan (bantuan sosial) dan lemah lembut dalam bicara.” (HR Ahmad).
Dengan makna tersebut, nampak bahwa mabrur beriorientasi pada kebaikan secara sosial. Kemabruran tidak hanya diukur dari terpenuhinya syarat dan rukun (manasik) haji, namun juga sejauh mana implementasinya secara sosial.
Haji yang mabrur merupakan proses yang tidak terhenti begitu saja saat prosesi haji usai, tapi berlanjut pembuktiannya di masyarakat. Mabrur merupakan cita sosial para hujaj sepulangnya dari Tanah Suci dalam mengempati, mengemansipasi, dan mengangkat harkat martabat sesama dari kemiskinan, pengangguran, kebodohan, dan keterbelakangan. Dalam konteks inilah orang yang berangkat haji berkali-kali di kala masih banyak tetangga kelaparan sangat bertentangan dengan nilai luhur ajaran Islam dan berarti pula tumpul dalam menghayati cita revolusi sosial ibadah haji.
Misi Keumatan Manusia Sejati
Ibadah haji bagi seorang Muslim secara artikulatif mempertemukan kewajiban yang bersifat individu dengan misi sosial. Usai ibadah haji, bukan berarti usai dalam kewajibannya, bahkan kewajiban lain menanti, yakni pengabdian yang lebih tinggi. Sesuai dengan misi ajaran Islam yang paripurna, yaitu bersifat vertikal dan horizontal, maka mentalitas ke-mabrur-an dalam haji pun mesti terkomunikasikan baik vertikal, dengan semakin commited terhadap perintah Allah melalui ibadah (al-mahdhah), juga secara sosial dalam pergaulan hidup bermasyarakat (ghair al-mahdhah).
Secara individual, ibadah haji adalah perjalanan manusia untuk kembali kepada fitrah kemanusiaannya. Kehidupan dunia ini telah menghempaskan kita dari fitrah kemanusiaan. Kita telah menjadi makhluk yang hina. Alih-alih menjadi khalifah Allah, manusia justru menjadi binatang.
Menurut Jalaluddin Rumi, kita adalah seruling bambu yang tercerabut dari rumpunnya. Lengkingan suara seruling yang keluar adalah jeritan pilu dari pecahan bambu yang ingin kembali ke rumpunnya semula. Kita akan menjadi bambu yang sejati bila kembali pada rumpun awalnya. Kita akan menjadi manusia sejati apabila kembali kepada Allah.
Jemaah haji adalah kafilah seruling yang rindu untuk kembali ke rumpun abadinya, rombongan manusia “binatang” yang ingin menjadi manusia sejati. Ketika berangkat dari tanah air, ia meninggalkan sifat kebinatangannya. Baju kepongahan, diganti dengan kain ihram, sebagai simbol kefitrahan dan seragam yang kelak akan dipakai menghadap Allah.
Di depan Rumah Allah, para hujjaj meng-upgrade kembali bai’atnya kepada Allah dengan mencium Hajar Aswad. Mengelilingi ka’bah (thawaf) bersama malaikat pemikul ‘Arasy sebagai bentuk komitmen kemanusiaan dengan pusat orientasi hidupnya adalah Allah. Di ‘Arafah, para ‘seruling’ itu kembali kepada rumpun bambunya. Mereka bergabung dengan manusia lainnya tenggelam dalam Lautan Ketuhanan.
Ibadah haji adalah ajang bagi seorang Muslim untuk menempa tanggung jawab keumatan kelak sepulangnya dari tanah suci. Para hujjaj berikutnya dituntut mempersiapkan diri untuk mengejawantahkan nilai-nilai sosio-spiritual haji sebagaimana yang ia peroleh saat melaksanakan manasik haji.
Setibanya di tanah air, sejatinya sebagai duta umat dan bangsa, para hujjaj harus bersiap diri untuk kembali berbaur dengan berbagai problematika keumatan dan secara aktif turut memberikan solusi pemecahannya. Para hujjaj dituntut untuk turut serta ambil bagian dalam pemberdayaan umat baik di bidang hukum, ekonomi, pendidikan, politik maupun budaya. Karena pada umumnya para hujaj tergolong kelas masyarakat menengah ke atas, maka sepulangnya dari tanah suci, ia akan semakin dermawan untuk menafkahkan sebahagiaan hartanya di jalan Allah.
Berangkat haji setiap tahun sah-sah saja bila ada kelebihan materi. Namun akan lebih produktif jika kelebihan itu dialokasikan membantu orang miskin, menyantuni anak yatim, memberi beasiswa pendidikan, menciptakan lapangan kerja, dan sebagainya.
Para hujjaj adalah duta yang diharapkan kembali ke pangkuan ummat dengan mengantongi predikat manusia suci yang memiliki sensibilitas sosial yang tinggi. Hal ini karena ibadah haji merupakan panggilan jihad yang membawa misi sosial guna mengentaskan ragam problematika kemanusiaan dalam hidup berbangsa dan bernegara.
Seandainya tidak turut serta secara aktif dalam menuntun ummat menuju jalan kehidupan yang lebih baik, setidaknya ia dapat menjadi teladan perilaku terpuji di tengah-tengah masyarakat. Para hujjaj dari kalangan pejabat, misalnya, jika tidak mampu memberantas korupsi, setidaknya dirinya tidak lalu menjadi koruptor baru sepulang dari haji. Jangan menjadikan gelar haji atau hajjah untuk menutupi kelakuan korup dan antisosialnya. Alih-alih tidak mampu menjadi bagian dari pemberi solusi, maka jangan menambah masalah yang baru.
Setibanya di tanah air, mudah-mudahan atsar manasik mereka mampu menyebarkan keberkahan di sekitarnya. Air zamzam mereka, mudah-mudahan menjadi tetesan-tetesan mukjizat yang menyirami kegersangan hati manusia dan menyuburkan keimanannya. Ketulusan niat mereka mudah-mudahan menghantam para pencinta dunia. Bibir bekas ciuman kepada Hajar Aswad, mampu menyebarkan kata-kata yang membawa kepada kebenaran. Tangan bekas melempar jumrah mampu digunakan untuk menghantam segala kesewenangan dan penindasan. Akhirnya, wajah berseri mereka mudah-mudahan memberikan kesejukan dan kedamaian di tengah kegersangan manusia.
“Ya Allah sampaikan mereka pada cita-cita dan harapannya untuk menjadi haji/hajjah yang mabrur/mabrurah dan kumpulkan kembali mereka pada keluarga dan masyarakatnya dengan membawa keberkahan. Takdirkanlah kami di tahun-tahun yang akan datang menjadi tamu-tamu Engkau, Wahai Rabb Yang Maha Berkehendak!”
Gempa bumi dengan kekuatan 7,3 Skala Richter yang berpusat di Tasikmalaya, yang terjadi pada hari Rabu, 2 September yang lalu, getarannya begitu kuat terasa oleh masyarakat Jawa Barat, Banten, DKI Jakarta, bahkan sampai Jawa Tengah, Bali dan Sumatera. Gedung-gedung runtuh, rumah-rumah rata dengan tanah, beberapa orang tewas, tak terhitung pula yang luka berat maupun ringan. Masya Allah ! Inilah bencana yang mendera bangsa ini untuk kesekian kalinya.