Indonesia, kaya akan keunikan budaya. Indonesia adalah negeri dimana budaya kreatif mewarnai nafas dan riak kehidupan bangsanya. Kreativitas budaya bangsa ini kadang-kadang membuat negeri lain (baca : negeri tetangga) tergoda untuk mencuri dan mengklaimnya. Inilah anugerah Tuhan yang patut disyukuri dengan selalu menjaga kreativitas dan produktivitas dalam mengolah dan mempertahankan budaya sendiri sebagai identitas bangsa. Jangan hanya kebakaran jenggot saja ketika ada negara tetangga yang mengklaim budaya kita, sementara kita sendiri tidak pernah menghargai dan merawatnya.
Hasil kreativitas budaya tak luput juga mewarnai tradisi keagamaan. Tentu saja tidak dimaksudkan untuk menambah muatan ajaran agama, melainkan sekedar menjadi alat agar produk langit itu bisa mudah dipahami oleh penduduk bumi (manusia). Jika saja para Nabi dan Rasul yang dibimbing langsung oleh Tuhan dan sebagai tangan pertama pembawa risalah, masing-masing memiliki cara dan metoda yang berbeda-beda dalam penyampaiannya pesan-pesan Ilahi itu kepada kaumnya yang disesuaikan dengan kondisi dan situasi umatnya. Maka, untuk generasi berikutnya, yang punya tanggung jawab untuk menindaklanjuti tugas kerisalahan ini, dan tanpa dibimbing langsung oleh Tuhan, berupaya untuk memilih cara dan metode yang tepat untuk menyampaikan ajaran Tuhan itu kepada pengikutnya. Maka pendekatan budaya dan tradisi yang ada menjadi sebuah keniscayaan untuk ditempuh demi kelancaran dakwah dan penyebaran risalah.
Salah satu produk budaya kreatif yang merupakan hasil akulturasi dengan tradisi local yang ada, khususnya di Indonesia, adalah perayaan ‘Idul Fitri sebagai hari raya bagi umat Islam setelah menjalani ibadah puasa sebulan penuh. Bagi umat Islam Indonesia, Idul Fitri memiliki kekhasan tersendiri. Istilah yang digunakan bagi umat Islam di negeri ini adalah “lebaran”. Tradisi keagamaan yang bukan saja menjadi milik umat Muslim secara eksklusif, tapi telah menjadi kultur bangsa yang unik. Dua ungkapan yang sering kita dengar, maupun kita baca di kartu lebaran atau pesan singkat di telepon seluler (SMS) adalah ungkapan“minal aidin wal faizin” dan “halal bi halal”. Padahal, dua frasa berbahasa Arab itu, konon tak ditemukan dalam kultur Arab sendiri.
Keunikan masyarakat dalam konteks tradisi keagamaan adalah penggunaan istilah “Lebaran” yang jauh lebih populer ketimbang ‘Idul Fitri, mungkin karena hal itu sudah sangat merekat dalam ingatannya sejak kecil. Salah satu bentuk tradisi menyambut hari raya di Indonesia juga unik adalah tradisi mudik. Mudik adalah salah satu cara untuk mengunjungi kampung halaman dan bersilaturrahmi kepada orang tua, saudara, teman, guru, serta handai taulan. Mudik merupakan pemandangan tahunan yang memberi nuansa lain di penghujung bulan Ramadhan.
Berjejal-jejalan di stasiun kereta, di terminal bis dan bermacet-macetan dijalan raya, tidak membuat para pemudik kapok dan tidak melakukannya ditahun berikutnya. Malah yang terjadi justru sebaliknya, setiap tahun adanya peningkatan jumlah pemudik. Bagi mereka siksaan seperti itu adalah bagian dari kebahagiaan itu sendiri, sebagai resiko karena ingin meraih kebahagiaan sebenarnya tatkala bisa sampai di kampung halaman, tempat kelahirannya.
Bagi mereka, hari raya adalah kemewahan dan pencurahan kebahagian yang tidak mereka dapatkan sehari-hari. Boleh saja orang bilang bahwa itu adalah akibat urbanisasi atau modernisasi yang timpang antara desa dan kota. Tetapi itulah biaya dari berputarnya terus roda kehidupan yang tidak bisa dihentikan. Yang pasti siksaan yang diakibatkan oleh perjalanan mudik yang melelahkan itu adalah sejenis kebahagiaan yang harus diteguk agar keinginan untuk mengobati kerinduan kepada kampung halamannya bisa diraih.
Tradisi mudik lebaran yang merupakan momen pertemuan antara nilai keislaman dengan budaya bangsa itu sejatinya harus memberi makna dan pesan moral bagi proses penguatan kesadaran kemanusiaan kita. Betapa rasa rindu akan kampung kelahiran (primordial) begitu menguat menjadi kesadaran yang tidak bisa dilepaskan dalam diri manusia. Jika ditarik lebih jauh lagi, maka kita akan menemukan hakikat primordialisme itu sebagai fitrah (naluri) kemanusiaan. Bahwa manusia, meminjam istilah Jalaluddin Rumi, adalah seruling bambu yang tercerabut dari rumpunnya. Lengkingan pilu suara seruling itu adalah jeritan rindu manusia untuk kembali kepada “rumpun sejatinya”.
Manusia, sejatinya tidak akan pernah melupakan tempat dimana asal-muasalnya berada. Nurani yang ada dalam diri manusia akan selalu mengingatkan bahwa di dunia ini bukanlah tempat tinggal sejatinya. Nurani akan selalu menyadarkan kita bahwa asal kita adalah di “tempat luhur’ yang penuh keabadiaan, bukan di alam rendah ini yang penuh kepalsuan. Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un (Sesungguhnya dari Dia kamu berasal dan kepada Dia pula kamu kembali).